LUWURAYA.COM — Kondisi kemarau yang semakin kuat membuat risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap aktivitas yang dapat memicu api, terutama di lahan dan vegetasi yang mulai mengering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi El Niño saat ini berada pada intensitas kuat. Dalam prakiraan periode 18–24 Agustus 2026, BMKG juga menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi relatif kering karena banyak daerah telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lahan dan vegetasi yang kering lebih mudah terbakar. BMKG sebelumnya juga mengingatkan bahwa kondisi kering dan hari tanpa hujan yang panjang dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengajak masyarakat ikut mencegah kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Ayo warga kami tercinta, bersama-sama menjaga lingkungan sekitar serta mencegah dari kebakaran pada daerah dengan kerawanan tinggi,” ajaknya.
Ia meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu api, termasuk membakar lahan secara sembarangan dan membuang benda yang berpotensi menjadi sumber api.
Luwu Timur Sudah Catat 14 Kebakaran Lahan
Kondisi kemarau tersebut juga perlu menjadi perhatian di wilayah Luwu Raya. Di Kabupaten Luwu Timur, misalnya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan mencatat 14 kejadian kebakaran lahan sepanjang 9–18 Agustus 2026.
Sebelum 18 Agustus, Damkar Luwu Timur mencatat 11 kejadian hingga 17 Agustus. Enam kejadian berlangsung di Kecamatan Malili dan lima lainnya terjadi di Kecamatan Towuti.
Pada 18 Agustus, tiga kejadian tambahan terjadi di Kecamatan Towuti. Dua kebakaran berlangsung di Desa Matompi, sementara satu lainnya terjadi di Desa Baruga.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa lahan kering mulai menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian di tengah kemarau.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 secara umum berlangsung pada Juli–September, dengan sebagian besar wilayah mencapai puncaknya pada Agustus. BMKG juga mencatat durasi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dari kondisi normal. BMKG
Karena itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Benda yang dapat menjadi sumber api juga perlu dijauhkan dari area yang memiliki vegetasi kering.
Jika menemukan kebakaran, masyarakat perlu segera melaporkannya kepada petugas agar api dapat ditangani sebelum meluas.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam mengingatkan masyarakat agar tetap waspada selama musim kemarau. Ia meminta warga segera menghubungi layanan 112 jika menemukan kebakaran lahan atau kondisi darurat lain yang membutuhkan pertolongan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi kemarau ini. Selalu ingat layanan 112 Luwu Timur jika melihat kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan segera,” ujar Irwan.
Di tengah kemarau dan pengaruh El Niño, pencegahan menjadi langkah penting. Kebakaran yang terlambat ditangani bukan hanya mengancam vegetasi, tetapi juga dapat merambah lahan pertanian, perkebunan, hingga permukiman.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

