LUWU TIMUR — Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-X tingkat Kabupaten Luwu Timur tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni keagamaan umat Hindu. Tahun ini, kegiatan tersebut juga membawa pesan tentang hubungan manusia dengan lingkungan melalui tema “Samwacana Sarwa Bhawa Ekatwa: Penguat Literasi Ekoteologi (Green Dharma) Menuju Harmonisasi Kehidupan.”
UDG ke-X resmi dibuka Wakil Bupati Luwu Timur Puspawati Husler di Lapangan Desa Pepuro Barat, Kecamatan Wotu, Jumat (31/7/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong dan diikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari.
Tema Green Dharma menjadi salah satu pesan penting dalam pelaksanaan UDG tahun ini. Konsep tersebut menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mengajak peserta melihat kehidupan secara lebih harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.
Bagi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, UDG juga menjadi bagian dari pembinaan umat sekaligus ruang bagi generasi muda Hindu untuk mengembangkan kemampuan seni dan budaya keagamaan.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diarahkan untuk menjaga sekaligus mengembangkan seni dan budaya keagamaan umat Hindu di Luwu Timur. Lebih dari sekadar kompetisi, UDG menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal, mempraktikkan, dan melestarikan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan.
Dari Seni Keagamaan hingga Pesan Lingkungan
Rangkaian kegiatan diawali dengan defile peserta dari masing-masing kecamatan. Setiap rombongan dipimpin camat dan menampilkan yel-yel sebagai bentuk kekompakan sekaligus menciptakan suasana meriah sebelum rangkaian kompetisi berlangsung.
Dalam sambutannya, Wabup Puspawati mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan UDG ke-X.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi generasi muda Hindu untuk mengaktualisasikan diri melalui seni keagamaan sekaligus memperkuat nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.
“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya UDG ke-X ini, sehingga ajang ini dapat kembali dihadirkan sebagai ruang bagi generasi muda Hindu untuk mengaktualisasikan diri dalam bidang seni keagamaan,” ujar Puspawati.
Namun, Puspawati mengingatkan agar UDG tidak dipandang semata-mata sebagai arena untuk mencari pemenang.
Menurutnya, proses mengikuti kegiatan dan berinteraksi dengan peserta dari berbagai wilayah justru dapat menjadi pengalaman yang memperkaya diri sekaligus memperkuat persaudaraan.
Ia juga berharap UDG dapat memperkokoh kerukunan internal umat Hindu sekaligus memperkuat hubungan harmonis dengan pemeluk agama lainnya di Luwu Timur.
“Saya berharap UDG ke-X ini dapat menjadi media untuk memperkokoh kerukunan internal umat Hindu sekaligus memperkuat harmoni dengan umat beragama lainnya di daerah yang kita cintai,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan tema yang diusung tahun ini. Nilai keagamaan tidak hanya ditempatkan dalam ruang ritual dan seni, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesadaran mengenai kehidupan yang selaras dengan lingkungan dan sesama.
Menang Bukan Tujuan Utama
Puspawati juga mengajak peserta mengikuti seluruh rangkaian UDG dengan menjunjung sportivitas.
Ia meminta generasi muda Hindu menjadikan kompetisi sebagai proses belajar, bukan semata-mata mengejar hasil akhir.
“Jangan jadikan semata-mata kemenangan sebagai tujuan utama, tetapi jadikan proses dan pengalaman berharga sebagai bekal untuk terus meningkatkan kualitas diri. Jadilah generasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga berkarakter dan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan,” tuturnya.
Pesan tersebut menempatkan UDG sebagai bagian dari proses pembinaan generasi muda. Kemampuan seni keagamaan diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, nilai kebaikan, serta kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Dengan berlangsungnya UDG ke-X, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap pembinaan seni dan budaya keagamaan dapat terus berkembang. Pada saat yang sama, nilai kerukunan dan pesan Green Dharma yang diangkat dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, UDG tidak berhenti sebagai panggung perlombaan, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan seni, nilai keagamaan, karakter generasi muda, kepedulian terhadap lingkungan, dan harmoni kehidupan di Luwu Timur.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Luwu Timur Komang Sudjana, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aini Endis Anrika, Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan Indra Fawzy, Forkopimcam Wotu, perwakilan Kementerian Agama, para pandita, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta peserta UDG.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

