Mantan aktifis mahasiswa medio tahun 1998, Abduh Bakri Pabe menilai Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hari ini mengunjungi Kota Palopo, sangat penting untuk mengetahui sejarah Tana Luwu, yang sarat jejak heroisme sejak jaman dahulu. Hal ini diungkapkan Abduh agar wacana perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya tidak bias di mata presiden.
Menurut Abduh yang juga Caleg Provinsi Sulawesi dari Partai Amanat Nasional (PAN), Daerah Pemilihan XI – Luwu Raya, nomor urut 1 ini, Ketika Republik Indonesia baru saja di proklamasikan, pahlawan nasional, Andi Djemma berinisiatif mendirikan Laskar Soekarno Muda. Organisasi ini didirikan hanya beberapa hari setelah kabar tentang Proklamasi kemerdekaan, sampai ke Tana Luwu.
“Tidak heran, Datu Luwu Andi Djemma, dikenal sebagai sang raja Nasionalis. Bahkan Presiden Soekarno sang Proklamator, sampai ‘jatuh cinta’ pada Tana Luwu dan menjanjikan status daerah Istimewa bagi Luwu, sebagaimana Yogyakarta,” ujar Abduh.
Dalam konteks penyebaran agama samawi, Tana Luwu juga adalah lahan persemaian Dinul Islam di Sulawesi. Ulama besar Datu Patimang yang konon berasal dari Minangkabau merupakan ulama penyebar ajaran Islam di Tana Luwu bersama dua orang sahabatnya, Datuk Ribandang di Gowa dan Datuk Ditiro di Bulukumba.
“Sudah sejak lama Rakyat Luwu rindu menjadi Provinsi sendiri demi memuliakan Indonesia. Akan tetapi, kerinduan ini sepertinya masih dikelilingi kabut hitam. Akibatnya, ide pembentukan Provinsi Luwu Raya seringkali menjadi korban politisasi kepentingan, benturan kepentingan antar elit dan kelompok politik tertentu sulit terhindarkan. Faktor inilah yang menjadi penyebab, ide provinsi Luwu Raya terus menggantung diantara langit dan bumi,” ujarnya menambahkan.
Dia pun menilai, sebagai figur yang telah diberi gelar adat Kedatuan Luwu, Presiden Republik Indonesia, Bapak SBY, perlu memahami historis perjuangan Rakyat Tana Luwu zaman pra hingga pasca kemerdekaan, sebab telah dapat diartikan bahwa Presiden SBY sudah menjadi bagian dari Wija To Luwu (masyarakat Luwu).
“Kami tak ingin keluar dari Negara Kesatuan, tapi kami ingin kesehjahteraan, berdikari, dan sejajar dengan daerah lain di Indonesia, termasuk pembangunan Infratruktur adalah hal mutlak yang kami butuhkan, bangunlah Indonesia tanpa diskriminasi,” tegas Abduh.
Pantauan luwuraya.com, dalam kunjungannya ke Kota Palopo siang tadi, Presiden SBY beberapa kali memberikan respon berupa pengancungan jempol terhadap wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya. Saat khatib sholat Jum’at di Masjid Agung Luwu Palopo, menyebut harapan masyarakat agar Provinsi Luwu Raya segera terbentuk, SBU meresponnya dengan dengan acungan jempol.
“Semoga Provinsi Luwu Raya segera terbentuk,” ucap Prof Nihaya, yang bertindak sebagai khatib di Sholat Jum’at yang disambut gemuruh kata ‘Amin’ oleh jamaah tanda menyetujui harapan tersebut.
——————-
BACA JUGA: Informasi kunjungan Presiden RI di Kota Palopo, klik DI SINI




