Pemerintah Kabupaten Luwu Utara terus menggalakkan budidaya lebah madu trigona oleh masyarakat di daerah itu, mengingat pengembangan budidaya madu jenis ini yang cukup memiliki prospek ekonomi.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Luwu Utara, Mujahiddin Ibrahim mengatakan prospek budidaya lebah madu trigona terus berkembang sejak pertama kali digalakkan di Kabupaten Luwu Utara sejak tahun 2006 silam di Dusun Petambua, Desa Radda, Kecamatan Baebunta.
“Pengembangan budidaya lebah madu trigona ini sangat menjanjikan dalam peningkatan ekonomi masyarakat juga dalam proses pembudidayaannya sangat sederhana, sehingga budidaya lebah madu trigona ini sangat tepat jika di arahkan kepada masyarakat miskin yang umumnya berdomisili di sekitar hutan atau masyarakat bersentuhan dengan kawasan hutan,” ujar Mujahiddin saat membuka Workshop peningkatan produksi dan mutu lebah trigona serta penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Forum Kelompok Usaha Perlebahan Luwu Utara (FOKUP-LU) dengan CV Nutrima Sehat Alami Bogor dan Trigon Bee Malaysia yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Luwu Utara, di Hotel Remaja Masamba.
Mujahiddin merincikan, hingga tahun 2013, jumlah masyarakat yang telah membudidayakan lebah trigona ini sebanyak 900 kepala keluarga sebanyak 6.000 koloni lebah madu trigona, dengan total produksi khusus untuk madu jenis trigona seebanyak 48 ribu kilogram dengan nilai ekonomi mencapai Rp2 miliar.
Nilai tersebut belum termasuk produk lainnya berupa propolis mentah 3.000 kg dengan nilai mencapai Rp900 juta serta Bee pollen sebanyak 1.480 kg dengan nilai mencapai Rp269 juta sehingga total nilai ekonomis budidaya lebah madu trigona di Luwu Utara mencapai Rp3,6 miliar.
Selain lebah trigona dengan produk madu, propilis mentah dan Bee polen, juga terdpat lebah hutan dengan produk madu sebanyak 4.000 kg dengan nilai mencapai Rp2 miliar.




