Insiden meninggalnya bayi imature beberapa hari yang lalu dan diduga terjadi akibat pelayanan buruk dipuskesmas Wasuponda, langsung ditangani oleh Pemerintah kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur.
Dengan difasilitasi oleh Camat Wasuponda, Awaluddin Anwar dikantor camat Wasuponda, Rabu (16/04/14) pagi tadi yang dihadiri oleh orang tua korban, kepala keperawatan puskesmas, Samuel, tokoh masyarakat dan pemuda.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala keperawatan puskesmas Wasuponda, Samuel mengatakan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Menurutnya, dirinya akan memperbaiki pelayanan sebaik-baiknya.
“Pihak kami tidak mengetahui jika pasien dalam keadaan hamil, oleh karena itu, kami memohon maaf atas kejadian ini,” ungkap Samuel.
Camat Wasuponda, Awaluddin Anwar yang dikonfirmasi awak media melalui via telepon, Rabu (16/04/14) juga mengungkapkan permohonan maaf kepada keluarga korban. Selain itu, dirinya juga berjanji akan memantau dan meminta untuk terus memperbaiki pelayanan setiap minggunya.
“Saya akan memantau pelayanan puskesmas setiap minggunya agar kejadian ini tidak terulang lagi,” ungkap Awaluddin.
Sementara itu, Wawan ayah dari bayi ini hanya bisa pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kejadian ini kepada Allah dan meminta kepada pihak puskesmas agar kejadian yang dialaminya tidak terjadi pada masyarakat lainnya.
“Kami hanya bisa pasrah namun kami juga meminta agar kejadian ini tidak terulang pada masyarakat lainnya,” ungkap Wawan.
Sebelumnya, Masyarakat Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur menyayangkan pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Wasuponda yang diduga sangat buruk atau diduga tidak sesuai standard operating procedure (SOP) dalam menangani pasien hingga berujung pada meninggalnya seorang bayi yang baru lahir.
Dari informasi yang dihimpun, jika salah seorang warga Kecamatan Wasuponda berniat ingin bersalin di Puskesmas Wasuponda namun dua bidan yang bertugas pada jum’at malam ini terlihat santai dan tidak melayani pasien yang kelihatan pucat dan kesakitan hingga menunggu berjam-jam di bangku depan teras ruang bersalin ini.
Tidak tenang melihat kondisi anaknya yang kesakitan, orang tuanya pun nekat menghampiri dua bidan ini untuk meminta pertolongan, namun dua bidan ini baru mempersilahkan pasien tersebut namun disambut dengan nada kesal. Setelah ditangani, bayi ini pun berhasil dikeluarkan dengan yang sangat lemah hingga harus ditempatkan dalam tabung incubator (tempat bayi prematur).
Namun kondisi bayi ini sangat mengkwatirkan hingga keluarga menyarangkan agar bayi ini dirujuk kerumah sakit PT Vale namun ditolak oleh dokter jaga dengan alasan harus dilakukan observasi selama dua jam. Keluarga korbanpun menyetujui saran dari dokter jaga namun dokter tak pernah melakukan observasi hingga bayi ini menghembuskan nafas terakhirnya. (*)




