Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan melanda wilayah Luwu Raya selama empat bulan kedepan, terhitung sejak Agustus hingga November mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Masamba, Tekad Sumardi, mengatakan musim penghujan untuk wilayah Luwu Raya akan berakhir pada Juli, dan Agustus masyarakat akan menghadapi perubahan musim secara ekstrem, yaitu dari musim hujan ke musim kemarau.
Menurutnya, dampak dari masuknya musim kemarau kali ini, yakni kondisi suhu udara yang sangat panas, terutama di siang hari, dan suhu udara dingin di malam hari. “Saat ini akan menghadapi cuaca yang sangat berbeda yaitu panas pada siang hari dalam beberapa bulan kedepannya,” ujar Tekad.
Pihak memprediksi, suhu udara pada siang hari akan mencapai batas tertinggi yaitu antara 33-35 derajat celsius, dan pada malam hari akan mengalami suhu udara dingin di bawah 19 derajat celcius.
Kepada petani, Tekad menyarankan agar selama musim pancaroba nanti, petani diharapkan agar menghindari menanam tanaman yang membutuhkan banyak air, seperti menanam kakao, kelapa sawit dan beberapa tanaman lainnya, termasuk tanaman padi jika areal sawah jauh dari irigasi atau Daerah Aliran Sungai (DAS).
Bagi daerah yang berada di daerah irigasi atau dekat sungai, bisa saja melakukan penanaman pohon dan tanaman pertanian, namun harus dibantu dengan air.
“Agar menghindari kerugian yang lebih banyak oleh petani, diharapkan agar memperhitungkan terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, jika perlu meminta petunjuk dari dinas pertanian atau instansi terkait setempat sebelum melakukan aktifitas pertanian dan perkebunan,” ujar Tekad.




