Mungkin anda pernah mendengar Program ‘Luwu Utara Sebagai Penghasil Kakao Terbaik 2010’, sebagai salah satu misi pemerintah Kabupaten Luwu Utara beberapa tahun silam. Target itu bukan sekedar isapan jempol belaka, terbukti hingga tahun 2009 lalu, Luwu Utara berhasil menjadi sentra kakao terbesar di Sulawesi Selatan, dengan areal kakao yang tersebar di Sembilan kecamatan di daerah itu.
Namun, bagaimana dengan kondisi saat ini? Ternyata, prestasi yang pernah diraih di tahun 2009 silam itu, tidak mampu dipertahankan lama. Sebab, sejak tahun 2012 hingga sekarang, luas areal tanaman kakao mengalami penurunan drastis. Bahkan, saat ini hanya tinggal dua kecamatan saja yang masih tetap mempertahankan ‘tradisi’ menanam kakao tersebut, yakni di Kecamatan Sabbang dan Baebunta. Apa penyebabnya?
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Luwu Utara, Armiady membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, sejumlah penyebab sehingga hasil komoditi kakao di Lutra mengalami penurunan drastis. Diantaranya yakni, pengalih fungsi lahan ke komoditi lain seperti kelapa sawit, nilam, dan tanaman pangan lainnya, hingga persoalan bencana banjir yang kerap menggenangi sejumlah lahan kebun milik masyarakat.
“Saya berkeinginan tahun ini kita berupaya bagaimana mengembalikan kakao ini seperti dulu lagi. Salah satunya dengan melibatkan seluruh stakeholder, aparat kita di lapangan, termasuk Penyuluh Pertanian, serta aparat desa untuk mengkampanyekan gerakan kebangkitan kakao ini. Olehnya itu, tahun ini kami cuma fokus pada kakao saja,” jelas Armiady di hadapan seluruh PPL Kecamatan Sabbang di Kantor BP3K, Kamis (29/1/15) lalu.
Menurutnya, salah satu program Pemerintah saat ini yakni berupa Gerakan Nasional Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Kakao Berkelanjutan pada luasan areal 300 hektar.
“Lewat dana APBN, kita akan melakukan program peningkatan produksi dan kualitas kakao. Kenapa kakao? Karena kakao masih menjadi komoditi andalan kita. Khusus di Bidang Perkebunan, kami fokus pada kakao saja. Tidak ada jalan lain kecuali kakao. Tidak bisa kita pungkiri bahwa orang naik haji, beli mobil dan bangun rumah, itu semua karena kakao. Ini hasil analisa saya selama ini,” ungkap Armiady.
Meski begitu, dia mengaku apapun program pemerintah tidak bakalan sukses tanpa dukungan dari masyarakat, terutama petani kakao di daerah ini.
“Namun, semua kita kembalikan kepada masyarakat petani kakao kita. Keputusan akhir ada pada mereka, kita ini hanya memberikan pertimbangan mana yang terbaik, baik dari segi teknis, ekonomis, ekologis, maupun sosialnya. Olehnya itu, awal tadi saya selalu mengatakan, kembalikan kakao seperti dulu lagi,” harapnya.




