Salah seorang siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Burau yang diketahui bernama Lerfina Tadayu (18) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri didalam kamarnya, Senin (18/05/15) sekitar pukul 15.00 wita kemarin.
Informasi yang dihimpun, Kejadian ini bermula saat korban pulang dari sekolah dan langsung menuju ke kediamannya di Desa Lambarese, Kecamatan Burau, Senin kemarin, aksi nekat ini dilakukan korban didalam kamarnya.
Sebelum mengakhiri hidupnya, korban telah menyiapkan terlebih dahulu alat perekam berupa handpone milik pribadinya sesaat sebelum dirinya menggantung diri sehingga cara gantung diri korban pun nampak jelas terlihat dari rekaman tersebut.
“Korban telah merekam dirinya saat gantung diri, sementara rekaman yang ada dalam handpone milik korban saat ini dipegang oleh keluarga korban,” ungkap Kapolsek Burau, AKP Hariadi Tukiyar melalui via telepon, Selasa (19/05/15).
Dari informasi yang dia terima, kata Hariadi, pihak sekolah telah meminta kepada korban agar mendatangkan walinya untuk duduk bersama terkait aksi ikut – ikutan yang dilakukan korban saat siswa kelas tiga SMAN 1 Burau ini melakukan coret – coretan usai pengumuman kelulusan digelar, Jum’at (15/5) 2015 lalu.
“Korban baru duduk dibangku kelas dua, saat kakak kelasnya coret – coret usai kelulusan korban juga ikut sehingga pihak sekolah meminta agar didatangkan walinya namun permintaan itu belum sempat dia lakukan, malah korban gantung diri didalam kamarnya,” ungkap Hariadi.
Informasi lainnya menyebutkan, kalau korban juga sering curhat ke tetangga rumahnya dengan sikap keluarga yang kerap memarahinya. “Kami sementara menyelidik kasus ini, untuk sementara, kami belum bisa memberikan dugaan awal penyebab korban tersebut nekat gantung diri,” ungkap Hariadi.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Burau, Edi Hartono membenarkan kejadian ini. Melalui pesan singkatnya, mantan Kepala Sekolah SMAN 1 Wotu ini mengaku kalau pihak sekolah memang meminta korban untuk menghadirkan orang tuanya.
“Dipanggil orang tuanya untuk dibina bersama, karena pelanggaran ringan untuk dinasehati (korban) bersama,” ungkap Edi melalui via Short Message Service (SMS).




