Quantcast
HEADLINE TOPIK:
Pemerintah Dukung Penerapan SRI
Kamis,22 Oktober 2015 | 15:05 WITA | Alpian Alwi
Lutim (Ilustrasi/dok)

Pemerintah Daerah (Pemda) Luwu Timur melalui Badan Pelaksana Penyuluh, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) menggelar kegiatan lokakarya hasil pembelajaran ekologi tanah dan penerapan System of Rice Intensification (SRI).

Kegiatan ini dihadiri petugas penyuluh pertanian dan petani kader Alumni pembelajaran yang berlangsung di aula pertemuan BP4K Kabupaten Luwu Timur.

Kepala BP4K Luwu Timur, Nursih Hariani mengatakan, lokakarya ini di gelar untuk mendapatkan gambaran hasil, masalah dan kendala pada penerapan teknologi system of Rice intensification pada musim tanam periode April hingga September 2015.

Menurutnya, Pemerintah Daerah sangat mendukung dan merekomendasikan penerapan teknologi ini karena menjawab masalah utama yang dihadapi petani yakni krisis air, tanah yang tidak subur, kelangkaan pupuk dan kondisi lingkungan yang saat ini mengalami degradasi fungsi tanah dengan Pola SRI menghasilkan Konsumsi pangan yang sehat.

Rekomendasi tersebut untuk keberlanjutan penerapan metode SRI Organik yang lebih sempurna dan menjangkau luasan yang lebih besar di Kabupaten Luwu Timur diperlukan fasilitasi untuk kelembagaan petani yang menangani sarana produksi Kompos dan Micro organisme lokal (MOL) serta alat pertanian yang efektif.

Selain itu, perlu pengkajian penggilingan beras produk SRI untuk menghasilkan beras yang tidak patah dan penampilannya lebih menarik, aspek pemasaran yang telah mulai difasilitasi, agar dilanjutkan di seluruh wilayah Kabupaten Luwu Timur dalam bentuk kemitraan yang resmi.

Rekomendasi selanjutnya berupa diperlu fasilitasi penerbitan sertifikat organik dari instansi atau lembaga yang berkompeten, perlu seleksi penyuluh alumni SRI dan petani kader untuk dilanjutkan dalam tahapan Training Of Trainer, pendampingan program melalui PTPM masih dibutuhkan, perlu fasilitasi pembentukan komunitas organik.

Sementara untuk memotivasi dan memberikan reward bagi penyuluh dan petani alumni SRI perlu dipikirkan untuk memberikan “SRI Award”.

Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
loading...