Sejumlah masyarakat Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur menilai kegiatan Festival Danau Matano (FDM) yang akan digelar pada tanggal 27 hingga 29 November 2015 mendatang merupakan ajang hura – hura dan tidak memiliki konsep yang matang.
Pasalnya, konsep kegiatan FDM tersebut tidak mengangkat tentang budaya dan sejarah danau matano termasuk sejarah Luwu namun lebih mengutamakan pada konsep hiburan yang sifatnya hanya sekedar hura – hura.
“Semua itu dihilangkan, tema kegiatan menuju danau matano sebagai warisan dunia, dimana arahnya itu, kalau hanya sekedar artis yang di nonton, dimana menuju warisan dunianya, arahnya kesana itu apa?,” ungkap Musran.
Konsep awal FDM ini, kata Musran, sudah digagas oleh masyarakat lokal sejak tahun 2003 lalu. Bahkan, pada tahun 2009 masyarakat lokal pernah melaksanakan kegiatan tersebut hanya dengan menghabiskan anggaran Rp50 juta hingga Rp60 juta.
“Hasilnya, masyarakat pada saat itu cukup puas, kegiatannya dibuka langsung oleh Opu Andi Hatta (mantan Bupati Luwu Timur) pada saat itu,” ungkap Musran.
Menurutnya, kegiatan ini terkesan sangat dipaksakan dengan indikasi agar supaya anggaran Festival senilai Rp4,7 miliar tersebut tidak beralih ketahun berikutnya. Selain itu, kepanitian lokal yang telah menggagas konsep FDM itu juga tidak lagi dilibatkan.
“Kami tidak tolak FDM ini karena kamilah yang menggagas sebelumnya dan tidak mungkin menggagalkan, yang kami tolak itu jika kegiatan ini dilaksanakan hanya sekedar melaksanakan kegiatan sebagai mana kewajibannya, kami mau kegiatan ini terlaksana betul – betul kembali pada konsep awal,” ungkapnya.
Musran pun berharap agar masyarakat lokal juga dapat terlibat langsung dalam kepanitian itu. Pasalnya, masyarakat lokal tersebut sangat memahami konsep awal dan lebih memahami danau matano untuk dijadikan kegiatan.
“Yang orang tahu itu kami masyarakat disini, terlibat atau tidak kami yang diketahui oleh masyarakat karena sejak dulu kami penggagasnya, secara konsep kami lebih matang dari sekarang ini hanya saja kami dikalah dari sisi hiburan seperti artisnya tetapi menyangkut masalah kegiatan masyarakat disini yang lebih tahu,” kata Musran.
Bentuk protes tersebut dilakukan masyarakat Kecamatan Nuha dibawa kordinator Musran dan tokoh pemuda Jihadin Peruge, dengan melakukan aksi demonstrasi didesa Magani, Kecamatan Nuha, Rabu (18/11/15) sore kemarin.
Dalam aksi tersebut, warga melakukan orasi dan membentangkan spanduk bertuliskan “masyarakat, organisasi dan komunitas kecamatan Nuha tidak mendukung mekanisme festival danau matano”.
Dikonfirmasi terpisah, Penjabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo mengaku tetap akan melaksanakan konsep yang sudah ada. Menurutnya, hiburan yang telah disiapkan oleh panitia hanya merupakan pelengkap dan bagian dari daya tarik.
Irman pun menegaskan, kegiatan FDM itu jauh sebelumnya telah disiapkan dan melalui mekanisme tender. Disamping itu, panitia juga telah menyetujui agenda kegiatan tersebut. Terkait masyarakat lokal, Irman mengaku juga telah dilibatkan.
“Dilibatkan (warga lokal), pernahlah rapat dikantor camat dan kita berharap pelibatan orang Lutim menjadi prioritas hanya karena dananya besar makanya harus ditender,” ungkap None, sapaan akrab Irman YL.
Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menganggarkan senilai Rp4,7 miliar dengan menyiapkan sejumlah kegiatan seperti Bazaar Kuliner Tradisional, pemilihan putra putri Matano, parade busana daerah, perlombanaan ketinting hias.
Lomba menangkap Ikan predator, performance tari daerah, wisata tambang dan disediakan pula area untuk berjualan batu. Sebagai Puncak acara FDM, akan menghadirkan artis – artis mancanegara maupun nasional, seperti Arkarna, Daniel Sahuleka, Ady Naff dan Duo racun.




