Salah satu kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Agus Toro, yang merupakan Putera Asli Tana Luwu, Sulawesi Selatan, bercita-cita mengembalikan khittah perjuangan HMI.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka langkah awal yang tak kalah pentingnya untuk diwujudkan adalah mengembalikan kesadaran “historical progresif” seluruh kader HMI.
Olehnya itu, Ketua Bidang Profesi PB HMI ini, mengusung tagline HMI kembali pada kongres Kongres HMI XXIX di Pekanbaru, Riau saat ini.
Agus Toro yang ditemui wartawan mengatakan, bahwa “HMI Kembali” adalah Gerakan epistemik yang beorientasi pada terciptanya satu kesadaranhistorical Progresif bagi anggota atau kader HMI.
“Yakni suatu kesadaran utuh terhadap dari dan untuk apa kita Tercipta. Keterpurukan HMI saat ini adalah karena ia kehilangan kesadaran sejarahnya sebagai sesuatu yang muliah dibangsa ini. Kesadaran sejarah adalah kesadaran yang membentuk, jati diri, cita dan eksitensi, kesadaran yang merujuk pada makna hadir dan pada realiatas apa ia harus mempertahankan kehadirannya,” ungkap Alumni Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar ini.
Kesadaran yang dimaksudnya, adalah yang pada akhirnya membentuk karakter dan identitas personal kader. Tanpa kesadaran sejarah itu, menurut Oyo, sapaan akrabnya, siapapun individu maupun institusi termasuk HMI, akan mengalami sesuatu yang lazim disebut sebagai kirisis identitas.
“Pada kubangan inilah HMI berada, kubang yang mereduksi Peran dan Fungsi Organisasi ini. Sebagaimana kesadaran sejarahlah yang pada akhirnya akan melahirkan rumus peran dan fungsi HMI itu sendiri,” lanjutnya.
Olehnya itu, dengan gagasan, ide dan pemikiran yang ditawarkan Agus Toro untuk mengembalikan HMI pada khittah perjuangannya maka dirinya tentu sangat beraharap dukungan seluruh kader HMI baik yang ada di tingkatan komisariat dan Cabang hingga pada tingkatan pengurus PB dan Alumni HMI.
“Dukungan dari semua elemen, untuk HMI Kembali, mencipta sejarah, meneguhkan martabat bangsa, adalah hal yang sangat penting demi mewujudkan cita-cita bersama,” tutup Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Jayabaya, Jakarta ini.




