Konstalasi politik perebutan kursi 01 Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada Kongres XXIX di Pekanbaru semakin ketat. Beberapa kandidat mengaku optimis untuk meraih kemenangan pada kongres yang berlangsung di Gedung Olah Raga Pekanbaru.
Salah satu kandidat yang disebut-sebut kuat menduduki puncak kepemimpinan ditubuh organisasi terbesar dan tertua di Indonesia itu, adalah Agus Toro yang merupakan Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Munculnya isu tersebut di arena kongres, dikuatkan oleh pernyataan salah seorang tim pemenangan kandidat asal Tana Luwu, Sulawesi Selatan itu.
Menurut Tim Pemenangan kandidat dengan tagline HMI Kembali ini, Bayu Purnomo yang pernah bersama dengan Agus Toro di kepengurusan PB HMI, dirinya sangat optimis bahwa jagoannya itu akan fight dan mampu memenangkan pertarungan tersebut.
“Kami haqqul yaqin, kemenangan akan kami raih dengan ikhtiar yang senantiasa kita lakukan. Dengan niatan tulus kakanda Agustoro kami yakin Ridha Tuhan bersama-sama dengan kami,” ujarnya.
Bayu juga mengatakan, tim dan seluruh elemen yang selama ini mensupport Agus Toro akan terus berjuang dan membangun kekuatan untuk memenangkan Kongres tersebut.
“Untuk meraih kemenangan ini semua eleman yang ada di keluarga besar HMI tentunya harus kami libatkan, khususnya seluruh cabang yang ada di Nusantara,” tandasnya.
Sementara itu, Agus Toro yang dijumpai wartawan, juga mengaku optimis, bahwa represntasi cabang yang ada di Nusantara akan memberikan dukungan kepada dirinya. Apalagi menurutnya niatan tulus mengembalikan HMI kepada khittah perjuangannya, tidak akan mungkin ditolak oleh kader HMI dari manapun. Sebab itu merupakan cita-cita HMI yang harus diwujudkan saat ini.
“Genealogi HMI merupakan cawan suci yang memuat doktrin kehadiran atau kesadaran Sejarah HMI secarah Institusional, suatu doktrin yang menjadi philosofi perjuangan HMI dalam merumuskan tujuannya sebagai Insan Paripurna, serta menuntun pecapaiannya dalam bentuk starategi dan taktik politiknya secarah organisatoris,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, sejarah adalah perhelatan ruang waktu yang selalu memanggil dirinya untuk menapaki tiap lintasan sejarah yang telah terjadi pada masanya. Tidak hanya itu dalam pelintasannya, menurut Agus, sejarah selalu melahirkan hal-hal yang baru.
“Sesuatu yang mampu memberikan kekuatan intuitif dan inspiratif. Dan tentunya harus menjadi contoh atau Pelajaran Moral. Itu yang kita mau,” lanjutnya.




