Tidak banyak masyarakat Luwu Timur yang menjadikan bisnis Jamur Tiram sebagai pilihan, selain suhu udara yang kurang mendukung, juga dikarenakan masih kurangnya pemahaman sebahagian orang terkait cara budidaya jamur tersebut.
Namun bagi, Haspina (39) wanita asal Dusun Cerekang, Desa Manurung, Kecamatan Malili, dengan telaten berbekal ilmu dan referensi dari berbagai sumber, sukses menjadi pelaku usaha pembudidaya Jamur Tiram di Luwu Timur, Usaha ini berawal dari keinginan untuk memajukan perekonomian keluarga, Haspina yang akrab disapa Pina memulai pembudidayaan jamur tiram di sebuah ruangan dibelakang rumahnya.
Usaha budidaya yang digagasnya beberapa tahun lalu, hingga sekarang mulai berkembang. Awalnya ia hanya memiliki 1.000 kantongan bibit jamur (baglog) namun seiring dengan berkembangnya usaha tersebut, kini ia telah memiliki 8000 kantongan bibit jamur tiram.
“Saat ini saya bisa panen hingga 15 kilogram perhari, dari hasil panen ini saya bandrol harga Rp20.000 per kilogram kepada pengepul” terang Pina, ditemui ketika sedang memetik jamur tiram yang ia kelolanya.
Menyoal teknis budidayannya, menurutnya tidak terlalu sulit, proses yang pertama dikerjakan adalah membuat media tempat bibit jamur dengan bahan baku dari serbuk sisa gergajian kayu, dedak atau kulit padi serta tepung jagung yang dicampur air kemudian diaduk hingga merata selanjutnya dikemas dalam kantong plastik.
Selanjutnya, bubuk olahan yang telah dicampur dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian diikat dan dimasukkan ke dalam bak seperti oven untuk dipanggang kurang lebih 10 sampai 12 jam agar media akan digunakan memadat sebelum dimasukkan bibit.
Dia menjelaskan, setelah melalui pemanggangan baru media tersebut bisa dimasukkan bibit jamur dimana untuk satu botol bibit bisa digunakan menjadi 20 sampai 30 kantong media yang telah dipanggang sebelumnya, selanjutnya media tersebut dimasukkan ke dalam ruang inkubasi untuk diendapkan kembali kurang lebih dua bulan sebelum kantong bibit jamur dibuka untuk tumbuh keluar tunas jamur serta menghasilkan jamur diinginkan.
Sementara perawatannya tidak memerlukan keterampilan khusus, hanya saja suhu udara dingin harus tetap terjaga serta ruang budidaya senantiasa bersih dan sehat.
“Untuk menjaga suhu dan kelembaban ruangan budidaya agar pertumbuhan jamur baik, saya mensiasati dengan cara menyiram ruangan setidaknya 2 sampai 3 kali dalam seharinya,” ucapnya.
Ia menjelaskan, budidaya jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus Ostreatus cukup prospek untuk dikembangkan di Luwu Timur mengingat pangsa pasar semakin menjanjikan karena jamur tiram selain memiliki cita rasa yang khas, juga memiliki nilai gizi yang tinggi serta mengandung protein dan kabrohidrat.
“Saya memilih budidaya jamur tiram karena merupakan peluang bisnis yang sangat menjanjikan dibanding budidaya lainnya,” pungkasnya.




