Bulan Juni 2017 atau selama Ramadan lalu, Kota Palopo mengalami inflasi sebesar 1,39 persen, kumulatif inflasi pada tahun 2017 sebesar 2,93 persen dan inflasi tahun ke tahun menjadi 3,88 persen.
Kepala Badan Statistik Kota Palopo Simon Umar mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada kelompok barang dan jasa selama bulan puasa lalu. Kelompok bahan makanan merupakan kelompok dengan kenaikan harga tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain.
“Kelompok bahan makanan mengalami kenaikan harga hingga 4,08 persen, kemudian disusul kelompok perumahan, listrik, air, gas dan bahan bakar dengan kenaikan sebesar 1,02 persen,” ujar Simon Umar.
Sementara kelompok sandang naik sebesar 0,79 persen. Disusul kelompok kesehatan sebesar 0,54 persen. Sedang untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,16 persen.
Kelompok terakhir yang mengalami kenaikan harga paling kecil di Bulan Juni yaitu kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuagan sebesar 0,02 persen. Untuk pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan pada bulan Juni.
Sementara itu, untuk tingkat Sulsel Kabupaten Bone tercatat mengalami inflasi tertinggi yaitu 1,83 persen. Sedang inflasi terendah dipegang Kota Makassar dengan 0,84 persen.
“Tingkat inflasi Provinsi Sulsel sebesar 0,97 persen, sedangkan untuk nasional mencapai 0,69 persen,” kata Simon.
Kendati demikian, Simon menilai Bulan Juli ini Kota Palopo akan mengalami deflasi. Ini berdasarkan dari pengamatan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Menurut pengalaman setelah Ramadhan dan Lebaran, kita biasanya mengalami deflasi. Dengan begitu harga komoditas di pasaran bisa kembali normal,” pungkasnya.





