Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Parmudora) menggelar evaluasi progres penyusunan dokumen pengusulan Geopark Matano sebagai Geopark Nasional.
Kegiatan berlangsung pada 21–25 April 2026 di Gedung Pemuda Malili dan menjadi bagian dari percepatan persiapan administrasi serta substansi usulan kawasan tersebut.
Agenda itu dibuka Ketua Tim Percepatan Geopark Matano, Andi Tabacina Akhmad, serta dihadiri Kabid Kemitraan dan Destinasi Pariwisata Parmudora Andi Irfan Saputra, narasumber dari General Manager UNESCO Global Geopark Ijen Abdillah Baraas, dan tim percepatan Geopark Matano.
Dalam sambutannya, Andi Tabacina Akhmad menyebut kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dokumen pengusulan Geopark Matano memenuhi standar nasional.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar proses pengusulan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan agar Geopark Matano bisa segera memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan,” ujarnya.
Sementara itu, Abdillah Baraas menjelaskan geopark merupakan wilayah yang dikelola terpadu dengan menonjolkan warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya lokal.
Menurutnya, konsep geopark berbeda dengan kawasan konservasi biasa karena mengedepankan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pembangunan berkelanjutan.
“Geopark adalah konsep pembangunan kawasan berkelanjutan dengan semangat celebrating earth heritage, sustaining local communities,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara geopark nasional dan geopark global, kecuali pada tingkat pengakuan internasional terhadap nilai warisan geologinya.
Abdillah menambahkan, ada empat syarat dasar yang harus dipenuhi sebuah geopark, yakni warisan geologi, sistem manajemen, visibilitas, dan jejaring.
Melalui evaluasi ini, Pemkab Luwu Timur berharap dokumen pengusulan Geopark Matano semakin matang sehingga kawasan tersebut dapat ditetapkan sebagai bagian dari jaringan geopark nasional Indonesia.
Jika terealisasi, status geopark nasional diyakini akan memperkuat promosi wisata, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Matano.




