Sekolah yang bersih dengan pepohonan rindang sering kali dianggap telah memenuhi kriteria Adiwiyata. Padahal, Program Adiwiyata memiliki tujuan yang jauh lebih besar, yakni membangun budaya peduli lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seluruh warga sekolah.
Semangat itulah yang kini terus diperkuat UPT SMP Negeri 1 Malili dalam persiapannya mengikuti Seleksi Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Bagi sekolah ini, Adiwiyata bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Menurut Kepala UPT SMP Negeri 1 Malili, Agustati, S.Ag., M.Pd., sekolah yang berbudaya lingkungan lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.
“Sekolah Adiwiyata bukan hanya tentang penghijauan, tetapi bagaimana seluruh warga sekolah mampu menciptakan budaya ramah lingkungan melalui tindakan nyata. Sumur resapan ini menjadi salah satu langkah kecil yang memberikan manfaat besar bagi lingkungan sekolah,” ujarnya.
Adiwiyata Bukan Sekadar Sekolah Bersih
Program Adiwiyata merupakan program nasional yang dibina Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong lahirnya sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Melalui program ini, pendidikan lingkungan hidup tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga diterapkan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga pengelolaan lingkungan sekolah.
Tujuan utamanya bukan sekadar menciptakan halaman sekolah yang hijau dan bersih. Program ini juga mendorong terbentuknya kebiasaan ramah lingkungan, seperti mengelola sampah, menghemat energi dan air, menjaga kebersihan, serta menanamkan tanggung jawab terhadap kelestarian alam kepada seluruh warga sekolah.
Karena itu, sekolah yang mengikuti Program Adiwiyata dinilai bukan hanya dari kondisi fisiknya, tetapi juga dari kebijakan sekolah, keterlibatan guru dan peserta didik, pembelajaran berbasis lingkungan, serta keberlanjutan program yang dijalankan.
Dari Penghijauan hingga Sumur Resapan
Sebagai bagian dari persiapan menuju Adiwiyata Nasional, SMP Negeri 1 Malili terus memperkuat berbagai program lingkungan. Selain penghijauan, pengelolaan sampah, dan pembiasaan hidup bersih, sekolah juga membangun sumur resapan air hujan sebagai bentuk konservasi lingkungan.
Fasilitas tersebut berfungsi menampung air hujan agar meresap kembali ke dalam tanah. Langkah ini membantu mengurangi genangan air sekaligus menjaga ketersediaan cadangan air tanah di lingkungan sekolah.
Agustati menjelaskan, pembangunan sumur resapan menjadi salah satu contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan besar. Menurutnya, berbagai langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru menjadi fondasi terbentuknya budaya ramah lingkungan di sekolah.
Ke depan, SMP Negeri 1 Malili akan terus mengembangkan berbagai program lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah. Harapannya, budaya peduli lingkungan tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa ke rumah dan masyarakat sehingga memberi dampak yang lebih luas bagi kelestarian lingkungan.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

