Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » Petani di Lutra Ciptakan Alat Pengusir Hama Tikus Berbahan Bakar Elpiji
Metro

Petani di Lutra Ciptakan Alat Pengusir Hama Tikus Berbahan Bakar Elpiji

Redaksi
Redaksi Published 8 Desember 2013
Share
3 Min Read
SHARE

Seorang anggota kelompok tani Karya Nadi, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Mappedeceng, Luwu Utara, berhasil menemulan sebuah alat yang cuikuip efektif dalam menangkal hama tikus, yang diberi nama Emposan.

Dia adalah Komang, pria yang hanya memiliki pendidikan terakhir hingga SMP ini, mampu melahirkan alat mutakhir yang diklaim cukup efektif dalam membasmi hama tikus di areal persawahan.

Menurut Komang, Emposan sebenarnya sudah lama dikenal warga di Kabupaten Luwu Utara. Namun, jika selama ini menggunakan belerang atau tiram dengan bahan bakar bensin, alat ciptaan Komang ini justru mengamdalkan gas elpiji 3 kg sebagai han bakarnya.

Hasilnya sungguh luar biasa. Populasi tikus yang sangat meningkat menyerang sawah petani, kini sudah berkurang alias menyusut. Populasi hama tikus kini bisa diatasi dengan menggunakan emposan buatannya.

“Dengan alat sederhana ini, kami bisa menekan populasi hama tikus di Kecamatan Mappedeceng. Alat ini lebih hemat, cepat dan praktis. Lebih efisien dan efektif membasmi hama tikus, dibanding emposan yang digunakan di tempat lain. Emposan yang ada selama ini kita kenal sangat mewah dan bahan bakarnya harus dicari dan dibeli dulu. Sementara alat kami ini cukup praktis. Alatnya pun dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi,” kata Komang.

Komang menambahkan, sebelum menggunakan emposan, petani dalam membasmi hama tikus sering menggunakan racun. Namun, katanya, upaya itu tidak terlalu efektif dalam menekan populasi hama tikus. Dengan racun, lanjut Komang, tikus-tikus akan mati jika terkena, namun yang tidak kena racun bakal hidup dan berpotensi mengganggu tanaman padi. Nah, berangkat dari situ, terbersitlah upaya untuk melakukan inovasi baru, dan terciptalah emposan berbahan bakar gas elpiji yang dibuat sesederhana mungkin, dengan tidak menggunakan biaya yang mahal.

“Sebelumnya kami menggunakan racun, tapi upaya ini tidak terlalu efektif, karena racun hanya membunuh tikus yang terkena sementara yang tidak kena racun akan tetap hidup dan berkembang dengan cepat. Kalau menggunakan emposan, tidak ada tikus yang tersisa, semua akan mati. Kami empos lubang tikus, dan tikus akan keluar dengan sendirinya karena kepanasan di dalam lubang. Nah, tikus yang keluar ini kami ambil lalu kami bunuh dengan cara dipukul. Kalau tikus itu tidak keluar, maka otomatis tikus itu akan mati dengan sendirinya di dalam lubang yang kami empos itu. setelah kami mengempos ke dalam lubang dan sudah dipastikan tidak ada lagi tikus di dalamnya, maka lubang kami tutup kembali,” terang Komang.

Menurut Komang, dalam durasi setengah jam melakukan pengemposan, tikus mati yang berhasil dibasmi bisa mencapai satu ember banyaknya. Dan hasil itu ternyata sangat bermanfaat mengatasi perkembangan populasi tikus di areal persawahan.

“Setengah jam pengemposan yang kami lakukan, tikus-tikus yang berhasil kami bunuh bisa satu ember banyaknya. Jika dibandingkan dengan menggunakan racun, maka hasil ini sungguh luar biasa dalam menekan populasi hama tikus di Mappedeceng ini,” pungks Komang. (rls)

 

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

3.000 Lansia Lutim Terima Bantuan Tunai dari Pemkab Lutim

Honorer K-2 Ancam Nginap di Kantor Bupati Lutra

Pemadaman Listrik Semakin Parah, Warga Lutim Protes

Bupati ; Jaga Kemuliaan HUT Luwu Utara

Pasca Banjir Bandang, BPBD Palopo Tetapkan 14 Hari Masa Darurat

Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Previous Article Retribusi Tower Telekomunikasi di Lutim Over Target
Next Article Swiss Contact akan Bentuk Forum Kakao se-Luwu Raya

You Might Also Like

Metro

Bua Dilanda Banjir Bandang, Ratusan Rumah Terendam

13 April 2016
Metro

Bahri Suli Belum Tahu Ada Warga Lutim Yang Disandera di Filipina

29 Maret 2016
Metro

Diancam akan Didemo, Nico Kanter Janji Selesaikan Masalah F-Lagoon

27 Agustus 2013
Metro

Rusdi Layong Apresiasi Antusias Warga Wasuponda di Perayaan Kemerdekaan

1 Agustus 2025
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?