Seorang anggota kelompok tani Karya Nadi, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Mappedeceng, Luwu Utara, berhasil menemulan sebuah alat yang cuikuip efektif dalam menangkal hama tikus, yang diberi nama Emposan.
Dia adalah Komang, pria yang hanya memiliki pendidikan terakhir hingga SMP ini, mampu melahirkan alat mutakhir yang diklaim cukup efektif dalam membasmi hama tikus di areal persawahan.
Menurut Komang, Emposan sebenarnya sudah lama dikenal warga di Kabupaten Luwu Utara. Namun, jika selama ini menggunakan belerang atau tiram dengan bahan bakar bensin, alat ciptaan Komang ini justru mengamdalkan gas elpiji 3 kg sebagai han bakarnya.
Hasilnya sungguh luar biasa. Populasi tikus yang sangat meningkat menyerang sawah petani, kini sudah berkurang alias menyusut. Populasi hama tikus kini bisa diatasi dengan menggunakan emposan buatannya.
“Dengan alat sederhana ini, kami bisa menekan populasi hama tikus di Kecamatan Mappedeceng. Alat ini lebih hemat, cepat dan praktis. Lebih efisien dan efektif membasmi hama tikus, dibanding emposan yang digunakan di tempat lain. Emposan yang ada selama ini kita kenal sangat mewah dan bahan bakarnya harus dicari dan dibeli dulu. Sementara alat kami ini cukup praktis. Alatnya pun dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi,” kata Komang.
Komang menambahkan, sebelum menggunakan emposan, petani dalam membasmi hama tikus sering menggunakan racun. Namun, katanya, upaya itu tidak terlalu efektif dalam menekan populasi hama tikus. Dengan racun, lanjut Komang, tikus-tikus akan mati jika terkena, namun yang tidak kena racun bakal hidup dan berpotensi mengganggu tanaman padi. Nah, berangkat dari situ, terbersitlah upaya untuk melakukan inovasi baru, dan terciptalah emposan berbahan bakar gas elpiji yang dibuat sesederhana mungkin, dengan tidak menggunakan biaya yang mahal.
“Sebelumnya kami menggunakan racun, tapi upaya ini tidak terlalu efektif, karena racun hanya membunuh tikus yang terkena sementara yang tidak kena racun akan tetap hidup dan berkembang dengan cepat. Kalau menggunakan emposan, tidak ada tikus yang tersisa, semua akan mati. Kami empos lubang tikus, dan tikus akan keluar dengan sendirinya karena kepanasan di dalam lubang. Nah, tikus yang keluar ini kami ambil lalu kami bunuh dengan cara dipukul. Kalau tikus itu tidak keluar, maka otomatis tikus itu akan mati dengan sendirinya di dalam lubang yang kami empos itu. setelah kami mengempos ke dalam lubang dan sudah dipastikan tidak ada lagi tikus di dalamnya, maka lubang kami tutup kembali,” terang Komang.
Menurut Komang, dalam durasi setengah jam melakukan pengemposan, tikus mati yang berhasil dibasmi bisa mencapai satu ember banyaknya. Dan hasil itu ternyata sangat bermanfaat mengatasi perkembangan populasi tikus di areal persawahan.
“Setengah jam pengemposan yang kami lakukan, tikus-tikus yang berhasil kami bunuh bisa satu ember banyaknya. Jika dibandingkan dengan menggunakan racun, maka hasil ini sungguh luar biasa dalam menekan populasi hama tikus di Mappedeceng ini,” pungks Komang. (rls)




