Wali Kota Palopo, Judas amir mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi petani rumput laut di Kota Palopo mengalami penurunan produksi akibat kurang mendapatkan perhatian selama ini.
Padahal, menurut Judas, kualitas rumput laut Kota Palopo sempat diakui sebagai yang terbaik. “Sayangnya, karena tidak adanya tindak lanjut terhadap paten rumput laut Palopo, dan adanya pengakuan dari wilayah lain yang menggunakan nama Kota Palopo untuk rumput laut mereka. Hal inilah yang menyebabkan prestasi produksi rumput laut kita turun,” ujar Judas saat membuka Workshop Peningkatan Daya Saing Rumput Laut Luwu Raya, di Aula Hotel Palopo, siang tadi.
Sayangnya Judas tidak merincikan, daerah mana yang telah mencaplok nama Rumput Laut Palopo itu.
Dalam kesempatan itu, Judas juga mengharapkan, agar pembangunan indutri rumput laut agar ditetapkan di Tana Luwu Raya, bukan justru di daerah lain yang bukan penghasil rumput laut.
“Dinas Koperindag Provinsi Sulawesi Selatan agar memperhatikan petani rumput laut di Tana Luwu. Harap agar indistri rumput laut dibangun di Kawasan Luwu Raya, jangan sampai terjadi penempatan industri rumput laut di daerah lain yang justru bukan penghasil rumput laut,” ungkap Judas.
Sementara itu, Koordinator Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marsuki, mengatakan kegiatan ini digelar dengan harapan agar adanya peningkatan daya saing produk rumput laut di Tana Luwu melalui efisiensi proses produksi.
Menurutnya, rumput laut Palopo merupakan gracillaria terbaik di dunia. Produksi rumput laut Kota Palopo pada tahun 2011 mencapai 9.466 ton dengan nilai transakasi mencapai 56,8 Milyar. Hal ini menjadikan rumput laut Palopo sebagai produk unggulan daerah.
“Ke depan, kami akan mendampingi petani rumput laut di Palopo agar mulai memproduksi rumput laut perairan pantai dan laut, tidak hanya di empang,” ungkapnya.




