Swisscontact, sebuah lembaga nirlaba dari perwakilan industry swasta dan universitas di Swiss, menggelar lokakarya penyusunan rencana strategis forum kakao binaan yang diinisiasi oleh lembaga tersebut melalui SCPP (Sustainable Cocoa Production Program). Lokakarya itu digelar di Hotel Crand Clarion Makassar, selama tiga hari mulai 27 Maret mendatang.
Dalam kegiatan ini, hadir perwakilan dari forum kakao binaan SCPP, seperti Forum Kakao Sulawesi Barat, Forum Kakao Kolaka dan Forum Kakao Luwu Raya.
Program Director SCPP, Manfred Borer mengatakan melalui kegiatan ini diharapkan dengan adanya dokumen Rencana Strategis, fungsi Forum dapat lebih maksimal sebagai sarana komunikasi dan advokasi bagi para petani kakao di masing-masing wilayah.
Kegiatan itu akan digelar selama tiga hari dengan agenda masing-masing yakni Perumusan Visi Misi & Kebijakan Umum, Perumusan Strategi dan Penulisan Draft Rencana Strategis, dan Rapat Pleno Renstra dan Kesimpulan Workshop Renstra serta Memutuskan Rencana Tindak Lanjut.
General Secretary Cocoa Sustainability Partnership (CSP) Rini Indrayanti mengatakan memberikan dukungan penuh kepada Forum Kakao di Sulawesi sebagai jembatan informasi untuk mengatasi permasalahan kakao yang ada di daerah.
Untuk diketahui, SCPP atau Program Produksi Kakao Berkelanjutan adalah sebuah kerjasama skala besar antara Swiss State Secretariat for Economic Affairs SECO, The Sustainable Trade Initiative (IDH), Kedutaan Kerajaan Belanda (EKN) untuk Indonesia, Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri), Swisscontact dan perusahaan kakao swasta.
Program ini menargetkan pelibatan 60,000 petani kakao (20 persen adalah petani perempuan) dalam program pengembangan kapasitas guna meningkatkan produksi dan mutu kakao. Sekitar 1.100 kelompok tani dan ditargetkan sekurangnya 100 usaha kecil kakao ditingkat kecamatan diikutkan dalam penguatan kapasitas dibidang manajerial, keuangan dan peningkatan organisasi.
Program ini juga menargetkan sertifikasi dengan standar keberlanjutan internasional bagi petani kakao dalam meningkatkan prospek keberlangsungan sektor kakao di Indonesia. Sasaran utama SCPP yaitu mencapai tingkat produksi sekurangnya 1.000 kg kakao per hektar per tahun bagi petani yang terlibat dalam program ini melalui peningkatan manajemen kebun kakao.
Pada akhir tahun 2012, program menambahkan komponen nutrisi, yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman petani kakao mengenai pengetahuan gizi seimbang dan cara pengelolaan taman gizi keluarga untuk peningkatan konsumsi sayuran bergizi. Komponen nutrisi ini ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga petani kakao, serta menambah produktivitas petani kakao dikebun mereka.
SCPP didanai oleh SECO, IDH, EKN dan kontribusi dari perusahaan kakao swasta seperti Armajaro, ADM Cocoa, Cargill, Mars Inc, dan Nestlé. Jangka waktu program dimulai sejak 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2015.
Program ini juga menyertakan kerjasama yang erat dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI dibawah payung Nota Kesepahaman dengan Swisscontact dan melibatkan pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi dan Usaha kecil dan Menengah dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagai mitra Program.
SCPP dijalankan di enam propinsi di Indonesia, termasuk Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Selatan, Tengah dan Tenggara, termasuk di Luwu Raya.
(rls)




