Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Luwu Utara (Lutra) berharap agar Pemkab Lutra tetap dengan komitmennya yakni mempermudah setiap investor yang akan menanamkan modalnya di Lutra, utamanya investor kelapa sawit.
Pasalnya sedikitnya 40 perusahaan kelapa sawit telah telah mengungkap minatnya untuk berinvestasi di Lutra dengan berencana membangun pabrik kelapa sawit (PKS) namun sampai saat ini tak satupun yang terealisasi.
“Kali ini kita berharap perusahaan PT Jas Mulia yang telah mengungkapkan komitmennya untuk membangun pabrik kelapa sawit di Desa Minanga Tallu, Kecamatan Sukamaju dapat diberi kemudahaan memperoleh izin dari Pemkab Lutra,” kata Wakil Ketua II DPRD Lutra, Andi Sukma, Kamis (15/8/13).
Menurutnya harapan itu disebakan produksi kelapa sawit petani saat ini cukup besar mengakibatkan pabrik kelapa sawit yang ada saat ini PTPN di Burau Luwu Timur, kewalahan menerima kelapa sawit petani yang melimpah tersebut.
“Malah saat ini banyak kelapa sawit petani yang tinggal busuk. Apalagi diprediksikan dua tahun kedepan produksi sawit akan terus meningkat dan masyarakat akan merasa kecewa jika pemerintah tidak bisa membangun pabrik kelapa sawit di Lutra,” ujarnya.
Sementara itu Bupati Lutra, Arifin Junaidi meminta SKPD terkait untuk lebih serius dalam urusan hajat orang banyak, apalagi terkait investor yang hendak menanamkan investasi di Lutra yang berencana membangun pabrik kelapa sawit.
“Kepada satuan kerja (Satker) Pemkab Lutra yang terkait supaya mempermudah proses perizinan dan bisa dipercepat, karena kalau bisa dipermudah kenapa mesti dipersulit, yang penting sesuai dengan prosedur yang ada sehingga proses pembangunan pabrik kelapa sawit di Desa Minanga Tallu cepat pula beroperasi,” ujarnya.
Kepala Badan Perizinan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal (BPTSP-PM) Muhctar Jaya mengatakan terkait proses perizinan PT Jas Mulia yang berkomitmen berinvestasi sekitar Rp 125 miliar untuk membangun pabrik kelapa sawit sudah tidak ada masalah dan rencananya pada bulan Oktober sudah mulai pembangunan pabrik tersebut.
“Sudah tidak ada masalah mengenai perizinan dan rekomendasi tentang kelayakan lingkungan hidup. Dan kita berharap agar tahun depan pabrik pengolaan kelapa sawit berkapasitas 2 x 30 ton TBS per jam itu sudah bisa beroperasi,” pungkasnya.
Arief Abadi




