PT Vale Indonesia mencatat peningkatan penjualan produksi nikel di triwulan kedua sebesar 19.218 (MT). Jumlah volume ini meningkat sebanyak 6 persen dibandingkan dengan triwulan pertama tahun 2013 yang hanya mencatat 18.514 MT.
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, baik produksi maupun volume penjualan pada tahun 2013 naik masing‐masing sebesar 30 persen dan 33 persen.
Chief Financial Officer PT Vale Indonesia, Febriany mengatakan kenaikan ini berkat adanya kapasitas produksi baru PT Vale dan Perseroan menegaskan kembali target produksi 2013 yang telah disampaikan sebelumnya yaitu 10 persen lebih banyak dari produksi tahun 2012.
Meski begitu, harga realisasi rata‐rata pengiriman yang dicapai PT Vale pada triwulan kedua ini lebih rendah 10 persen dibanding dengan harga realisasi di triwulan pertama.
“Penurunan harga realisasi sebesar 10 persen tersebut sebagian diimbangi dengan kenaikan volume penjualan sebesar 6 persen,” kata Febriany.
Sementara itu, biaya bahan bakar dan biaya pelumas pada triwulan kedua meningkat sebesar 8 persen, dimana saat ini perseroan mengkonsumsi 679.306 barel Minyak Bakar Bersulfur Tinggi (HSFO) dengan biaya rata‐rata USD 100,76 per barel, dibandingkan konsumsi bahan bakar dan pelumas pada triwulan sebelumnya sebanyak 607.539 barel, dengan biaya rata‐rata USD 103,05 per barel.
“Perseroan juga menggunakan 14.732 kiloliter (KL) bahan bakar diesel dengan biaya rata‐rata USD 0,85 per liter sementara pada triwulan pertama sebesar 14.433 kiloliter dengan biaya rata‐rata yang sama,” ungkapnya.
Pemakaian HSFO tersebut akan menurun secara signifikan saat Proyek Konversi Batubara Tahap 1 selesai sekarang ini. “Proyek ini akan mengkonversi tanur pengering kami untuk menggunakan batubara dari sebelumnya HSFO dan akan menghemat biaya Perseroan secara signifikan. Dengan situasi harga nikel yang terus bergejolak, sangat penting bagi Perseroan untuk mengontrol biayanya dengan hati‐hati,” katanya.
Asdhar




