Desas-desus soal organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) atau juga kadang disebut dengan nama Negara Karunia Semesta Alam (NKSA), yang diduga mengajarkan aliran sesat, belakangan ini ternyata berdampak hingga ke Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Di daerah ini, sudah ada empat warga yang dilaporkan menghilang, yang diduga terkait dengan organisasi tersebut. Keempat warga itu terdiri dari tiga orang warga Kecamatan Ponrang yang merupakan satu keluarga, dan satu orang warga Belopa.
Sesuai informasi yang dihimpun, warga desa Tobia, kecamatan Ponrang Selatan yang dilaporkan hilang itu terdiri dari satu keluarga yakni Burhan Faiqal bersama Istrinya Andi Muliani, dan seorang anaknya Alexandra yang masih berusia satu tahun.
Laporan menghilangnya satu keluarga ini dilaporkan oleh Andi Besse yang merupakan kakak dari Andi Muliani. Besse menuturkan, ketiganya diketahui menghilang sejak bulan Mei 2015 silam. Baik Muliani maupun Burhan diketahui sudah lama bergabung di organisasi Gafatar.
“Setahu saya, Muliani adik saya merupakan pengurus DPK Gafatar Palopo, sementara suaminya merupakan Ketua DPK Gafatar Kendari,” ujar Besse.
Besse bahkan mengaku sempat diajak untuk bergabung dengan organisasi tersebut pada tahun 2012 silam. Saat itu, dirinya diundang untuk menghadiri acara deklarasi organisasi Gafatar di Makassar. Namun, dirinya memilih untuk keluar karena menilai tidak sejalan dengan kepercayaan yang dianutnya.
“Saya menilai ajaran ini bertentangan dengan keyakinan saya, sehingga saya memilih meninggalkannya,” ujarnya.
Dia mengaku, sudah sejak lama mencurigai keganjilan pada organisasi Gafatar, begitupun dengan menghilangnya adik beserta keluarganya ini. Namun, dia baru yakin setelah sejumlah media memberitakan tentang hilangnya Dr Rica di Yogyakarta karena bergabung dengan Gafatar. Hal itulah yang melatar belakangi dirinya baru melaporkan kehilangan tiga anggota keluarganya ini.
Kejadian warga menghilang ini juga dilaporkan oleh Hasriati, warga Belopa yang melaporkan jika suaminya, Rusdianto telah menghilang tanpa kabar sejak Senin (11/1/16) lalu. Suaminya yang berprofesi sebagai Guru PNS di SMA Negeri 1 Belopa itu hanya sempat mengirimkan pesan singkat ke tetangganya untuk mengambil mobil dan menjemput anak di sekolah, sesaat sebelum menghilang.
Meski belum ada jejak apakah menghilangnya sang suami terkait dengan Gafatar, namun Hasriati mengaku cemas dengan kondisi Rusdianto. Pasalnya sebelum menghilang, suaminya mengaku dalam kondisi sakit namun tetap memaksakan diri masuk mengajar. “Saya curiga kalau suami saya dihipnotis masuk ke Gafatar,” ujar Hasriati.
Kepala SMA Negeri 1 Belopa, Sahrun Zakaria yang dikonfirmasi mengaku sudah mendengar informasi menghilangnya Rusdianto tersebut. Dia mengaku bahkan sempat menelpon ke nomor milik Rusdianto namun panggilan itu ditolak. “Tetapi sekarang nomor HP-nya sudah tidak aktif lagi,” ungkap Sahrun.
Menurut penilaiannya, terkait kemungkinan Rusdianto bergabung dalam organisasi Gafatar sangat kecil kemungkinannya. Hal itu dinilai dari minat Rusdianto akan kecenderungan bergabung dalam sebuah organisasi. “Setahu saya, Rusdianto tidak memiliki minat bergabung dengan organisasi seperti itu, semoga saja tidak,” ujar Sahrun.




