Sebanyak 69 persen pelajar di kabupaten Luwu Timur saat ini tidak dapat melanjutkan pendidikan ketingkat Perguruan Tinggi (PT). Angka tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Luwu Timur, La Besse diruang kerjanya, Senin (9/1/17).
Menurutnya, 69 persen dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 itu merangkum akibat adanya pelajar yang putus sekolah karena mengutamakan berkeluarga dan juga memang karena terkendala dari biaya sekolah atau kuliah.
“Berdasarkan data dari BPS tahun 2016 adalah jumlah pelajar yang tidak lanjut sebanyak 69 persen dan 31 persen lanjut. Sehingga Pemerintah mencoba masuk, salah satu kendalanya adalah biaya kuliah,” ungkap La Besse.
Dirinya menambahkan, tingginya angka putus sekolah tersebut sebagai dasar Pemerintahan yang dinakhodai Husler dan Irwan saat ini telah berniat melalui visi dan misi untuk memberikan bantuan kepada Mahasiswa.
“Itulah dasar beliau kenapa bantuan untuk mahasiswa sebagai salah satu program prioritasnya sehingga tahun 2017 ini program bantuan mahasiswa yang berprestasi dan tidak mampu tersebut akan kita realisasikan,” ungkapnya.
Dijelaskan, Indeks Pembanguna Manusia (IPM) terdiri dari tiga kriteria yakni, pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat atau kesejahteraan. Sementara hingga saat ini IPM untuk kabupaten Luwu Timur masuk dalam empat besar di Sulawesi Selatan.
Melalui dinas Pendidikan, Pemerintahan Daerah (Pemda) Luwu Timur bercita – cita akan menjadikan daerah yang dijuluki Bumi Batara Guru ini masuk dalam tiga besar dalam pencapai IPM di provinsi Sulawesi Selatan.
“Caranya adalah mendorong para siswa dan siswi untuk melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi dengan dibantu oleh Pemerintah Daerah dalam hal bantuan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi dan tidak mampu,” ungkap La Besse.




