Sampah botol air mineral bekas berubah menjadi boneka kaus kaki yang lucu dan bernilai ekonomis di tangan 80 kader Adiwiyata SMPN 1 Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur.
Yang membuat kegiatan ini berbeda, proses pengolahan sampah tersebut dipandu langsung oleh Tri Sanjaya, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), yang mengajarkan siswa melihat sampah sebagai sumber kreativitas dan peluang usaha.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam bentuk workshop pengolahan dan pemanfaatan sampah di Gedung Serbaguna Kecamatan Tomoni Timur, Kamis (13/8/2026), dan dipantau langsung oleh Camat Tomoni Timur Yulius.
Dalam workshop tersebut, Tri Sanjaya mengajak para peserta memahami bahwa sampah plastik tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan kreativitas dan keterampilan sederhana, barang bekas dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai tambah.
Sebanyak 80 kader Adiwiyata mengikuti pelatihan tersebut dengan memanfaatkan botol air mineral bekas sebagai bahan utama. Botol-botol itu kemudian dipadukan dengan kaus kaki, kain flanel, dan benang wol hingga berubah menjadi boneka dengan berbagai bentuk yang unik dan menarik.
Proses pembuatannya relatif sederhana, namun menuntut ketelitian dan kreativitas. Setiap siswa diberi ruang untuk mengembangkan ide masing-masing sehingga hasil karya yang dihasilkan memiliki karakter yang berbeda-beda.
Workshop ini digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Tomoni Timur, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung program Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam mengurangi sampah plastik melalui pemanfaatan kembali barang bekas.
Guru pendamping siswa SMPN 1 Tomoni Timur, I Wayan Mardinata Umbara, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna.
Menurutnya, yang ingin dibangun bukan hanya keterampilan membuat kerajinan, tetapi juga cara berpikir bahwa sampah masih memiliki potensi apabila dikelola dengan baik.
“Melalui praktik mengolah botol air mineral bekas menjadi boneka kaus kaki, siswa belajar bahwa barang yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi karya kreatif apabila dikelola dengan keterampilan dan kreativitas,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga bertujuan memperkuat karakter kader Adiwiyata agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menjadi penggerak kebiasaan hidup bersih di sekolah maupun di masyarakat.
Selain menanamkan kesadaran lingkungan, workshop ini juga membuka wawasan siswa mengenai potensi ekonomi dari sampah. Produk daur ulang yang dihasilkan dapat memiliki nilai jual apabila dikembangkan dengan kreativitas, kualitas, dan inovasi.
Kehadiran alumni ITB dalam kegiatan tersebut dinilai memberikan inspirasi bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Justru dari bahan sederhana seperti botol bekas, siswa dapat belajar tentang kreativitas, kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan secara bersamaan.
Melalui kegiatan ini, para kader Adiwiyata diharapkan mampu menjadi contoh dalam menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sekaligus membawa pengetahuan yang diperoleh untuk diterapkan kembali di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Bagi SMPN 1 Tomoni Timur, workshop tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan dapat dikemas secara kreatif dan menyenangkan, sehingga siswa tidak hanya belajar mengurangi sampah, tetapi juga melihat bahwa barang bekas dapat menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

