Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai mengingatkan masyarakat di wilayah Luwu Raya, meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur, untuk mewaspadai datangnya musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi mulai meluas dalam beberapa bulan ke depan.
BMKG Wilayah IV Makassar menyebut sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan secara bertahap mulai memasuki fase peralihan menuju musim kemarau sejak Mei 2026. Meski hujan masih terjadi di sejumlah daerah, kondisi tersebut dinilai merupakan bagian dari masa transisi cuaca.
Ketua Kelompok Kerja Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, menjelaskan wilayah pesisir umumnya lebih cepat memasuki musim kemarau dibanding daerah pegunungan atau dataran tinggi.
“Awal musim kemarau di Sulawesi Selatan secara umum mulai terjadi pada Mei, khususnya wilayah pesisir barat. Sementara daerah pegunungan biasanya sedikit lebih lambat,” ujarnya dalam dialog interaktif bersama RRI Makassar.
Bagi wilayah Luwu Raya, kondisi ini dinilai penting untuk diantisipasi sejak dini, terutama karena sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, hingga aktivitas perikanan yang sangat dipengaruhi perubahan cuaca.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026. Pada periode tersebut, dampak fenomena iklim global seperti El Nino diperkirakan mulai terasa lebih merata, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan bagian timur dan utara.
Kondisi itu berpotensi memicu berkurangnya debit air, kekeringan lahan pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan jika tidak diantisipasi lebih awal.
Meski demikian, BMKG menegaskan potensi hujan masih bisa terjadi sewaktu-waktu akibat pengaruh gangguan atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) maupun gelombang Rossby yang masih aktif dipantau.
Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah meski cuaca mulai terasa lebih panas dalam beberapa pekan terakhir.
Di wilayah Luwu Raya sendiri, perubahan pola cuaca biasanya mulai dirasakan dari meningkatnya suhu udara pada siang hari, berkurangnya intensitas hujan, hingga kondisi sungai dan lahan pertanian yang mulai mengering secara bertahap.
BMKG berharap informasi prakiraan musim ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, petani, nelayan, maupun masyarakat umum dalam menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi dampak musim kemarau tahun ini.




