PT Vale Indonesia Tbk mencatat pendapatan sebesar USD990,2 juta sepanjang tahun 2025, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD950,4 juta.
Capaian tersebut menunjukkan ketangguhan kinerja perusahaan di tengah dinamika pasar global, khususnya tekanan harga nikel yang masih memengaruhi industri pertambangan.
Perusahaan tambang nikel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham INCO tersebut menyampaikan bahwa peningkatan pendapatan didorong oleh kenaikan volume pengiriman nikel matte serta perbaikan tingkat payability yang mulai berlaku sejak Juli 2025.
Sepanjang tahun 2025, PT Vale mencatat pengiriman nikel matte sebesar 73.093 metrik ton, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 72.625 ton.
Meski demikian, perusahaan menghadapi tekanan dari sisi harga komoditas. Harga realisasi rata-rata nikel matte pada 2025 tercatat USD12.157 per ton, turun sekitar 7 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai USD13.086 per ton.
Di tengah kondisi harga yang lebih lemah, perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas operasional serta efisiensi biaya produksi.
Selain mencatat peningkatan pendapatan, PT Vale juga membukukan EBITDA sebesar US$228,2 juta sepanjang 2025, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar USD76,1 juta, meningkat sekitar 32 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai USD57,8 juta.
Kinerja tersebut mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, peningkatan volume produksi, serta penerapan disiplin biaya di seluruh lini bisnis perusahaan.
Dari sisi produksi, PT Vale mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 metrik ton sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 71.311 ton pada tahun sebelumnya.
Selain produksi utama nikel matte, perusahaan juga mulai memperluas portofolio komersialnya melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok tambang di Bahodopi dan Pomalaa.
Sepanjang 2025, volume penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons, dengan kontribusi terbesar berasal dari blok Bahodopi.
Di sisi investasi, perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar US$485,9 juta pada 2025, meningkat sekitar 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Investasi tersebut terutama diarahkan untuk mendukung pengembangan proyek-proyek strategis serta kebutuhan modal berkelanjutan guna menjaga kapasitas produksi di masa depan.
Hingga akhir Desember 2025, PT Vale juga mencatat saldo kas sebesar US$376,3 juta, yang dinilai cukup kuat untuk mendukung berbagai proyek pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Ke depan, perusahaan terus memperkuat strategi pertumbuhan melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha, termasuk proyek tambang dan pengolahan di Pomalaa yang saat ini tengah dalam tahap pembangunan.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, PT Vale optimistis dapat menjaga keberlanjutan operasional serta memperkuat kontribusinya terhadap pengembangan industri nikel di Indonesia.





