Kepala BKPD Sulsel, Asri Pananrang, mengatakan bahwa petugas Enumerator Kabupaten/Kota yang dilatih setiap tahunnya tentang bagaimana cara mengumpulkan dan mengirim data panel harga pangan dari daerah sentra produksi, harus mampu merangkum semua harga pangan yang ada di daerahnya masing-masing. Hal itu perlu dilakukan dalam rangka menciptakan kestabilan harga di seluruh daerah, sehingga tidak terjadi yang namanya distorsi harga pasar.
Menurut Asri, kecepatan dan ketepatan data yang dikirim para petugas enumerator sangat menentukan kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah daerah dalam mengatasi setiap persoalan yang timbul akibat adanya ketidakstabilan harga di pasar. Salah satunya adalah kebijakan operasi pasar jika memang ditemukan adanya distorsi harga yang terjadi di lapangan.
“Petugas enumerator yang kita latih setiap tahun ini diharapkan mampu merangkum seluruh harga pangan di daerahnya masing-masing. Data yang akan mereka kirim setiap hari senin itu diharapkan cepat dan tepat. Ini penting, karena kecepatan dan ketepatan data harga yang mereka kirim sangat menentukan kebijakan pemerintah dalam mengeluarkan sebuah kebijakan jika ditemukan distorsi harga pangan di lapangan, operasi pasar misalnya,” jelas Asri.
Sementara itu Narasumber dari Kementerian Pertanian RI, Edy, mengatakan bahwa data fisik yang dikumpulkan para enumerator adalah data dan fakta di lapangan. Jadi, data yang dikumpulkan harus betul-betul valid dan akurat, bukan data yang direka-reka atau ditulis berdasarkan prakiraan dari petugas itu sendiri.
“Data harga yang kita kumpulkan setiap minggu ini adalah data fisik yang ada di lapangan. Jadi, semua data yang masuk harus murni data dari sumber yang ada di lokasi panel, bukan sebaliknya,” ujar pemateri yang punya nama marga Nasution ini.
Senada dengan Edy, Pemateri dari dari BKPD Sulsel yang juga Ketua Pelaksana Kegiatan, Iqmawaty, menegaskan bahwa data yang dikumpulkan di lokasi panel adalah bukan data rekayasa, melainkan data yang betul menjadi fakta lapangan.
Menurutnya, buat apa persenatse bagus, tetapi yang dikumpulkan tidak berkualitas. Dia mengambil contoh harga daging sapi mulai Maret hingga Desember selalu sama, tidak ada perubahan sama sekali.
“Saya dapat contoh kasus di daerah lain. Mulai Maret sampai Desember harga daging sapi selalu sama. Saya melihat data ini tidak berkualitas. Kan nggak mungkin data harga mulai Maret sampai Desember sama terus. Jadi, selain intens mengirim data, kualitas datanya juga harus diperhatikan,” pungkas Iqmawaty.





