Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Luwu Timur telah menggelar sidang Paripurna reses Perseorangan yang berlangsung diruang rapat sidang Paripurna, Jum’at (09/01/18).
Ada yang menarik dalam sidang Paripurna ini. Soalnya, disela – sela pembukaan sidang yang dibacakan langsung oleh ketua DPRD Luwu Timur, Amran Syam, sejumlah anggota dewan terlihat melayangkan interupsi.
Seperti legislator partai Golkar, Badawi Alwi mengatakan, pernyataan ketua komisi III terhadap kata ‘Begal’. Kata Begal adalah kata yang sangat mengerikkan sehingga pernyataan ini perlu mendapat penjelasan oleh Pimpinan sehingga yang punya kewenangan munculnya pernyataan itu.
“Begal APBD tahun anggaran 2018 saya kira yang memberikan legitimasi adalah kita – kita ini sehingga agar kita tidak berdosa dan fitnah terkait program 2018. Ini penting supaya tidak mendiskreditkan suatu lembaga,” ungkap Badawi.
Sementara itu, legislator partai Demokrat, Herdinang menyarankan agar Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk tinggal setelah rapat Paripurna ini untuk mencarikan ruang diskusi soal Pembegalan APBD 2018 tersebut.
“Masalah ini fakta atau bukan (Begal), Ini fakta, hasil rapat yang kita lakukan hari itu saya kira Pimpinan menandatangani undangan yang dikirimkan ke TAPD. Kami bedah itu APBD 2018, kemudian dokumen yang terakhir dikirim ke kita hilang yang saya maksud itu,” ungkapnya.
Saya kira, kata Herdinang, kata Begal itu adalah kata yang paling halus untuk menggambarkan itu karena bukankah APBD itu disepakati oleh kedua lembaga (Eksekutif dan Legislatif) ini sehingga jika ada kegiatan yang ingin diubah juga menghargai lembaga DPRD ini.
“Jangan kita dipermalukan di masyarakat pak, saya tidak keberatan kalau ingin diubah tetapi ada mekanismenya, hargai lembaga ini, APBD itu disahkan lalu diubah sepihak dan itukan suatu pelanggaran,” ungkapnya.
Pernyataan Herdinang pun juga dibenarkan oleh legislator partai Gerindra, Andi Baharuddin. Menurutnya, kegiatan yang sudah disetujui oleh kedua lembaga ini harusnya menjadi pedoman untuk direalisasikan dan bukan malah dihilangkan.
“Kami kemarin pak, ditengah masayarakat ini, ditagih sudah ada diketok sekarang hilang. Lucunya, kegiatan dikota hilang sementara didusun tertentu ada, apakah ini lobi – lobi khusus,” tanya Andi Baharuddin.




