Berkas Perkara Penganiayaan Warga Dilimpahkan ke Jaksa

Asdhar
2 Min Read
×

Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Anda akan dialihkan ke halaman SociaBuzz resmi kami untuk memberikan dukungan.

Buka Halaman Dukungan

Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Luwu Timur telah melimpahkan berkas perkara kasus dugaan penganiayaan dua orang warga desa Matano yakni Warni dan Marsuki yang terjadi didesa Matano, kecamatan Nuha, Kamis 2 Maret 2017 kemarin.

Penyerahan berkas perkara atau P15 tersebut dengan 12 orang tersangka antara lain, Randi, Pino, Sapar dan Mirpan dilakukan penyidik karena dinilai telah lengkap dan dapat dilimpahkan ke pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu Timur.

Informasi yang dihimpun, tindak pidana penganiayaan secara bersama – sama ini terjadi berbuntut dari ditetapkannya Kepala Desa (Kades) Matano, Jhonlis sebagai tersangka kasus dugaan pemalsuan dokumen.

Saat itu, Johnlis ikut dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Matano tahun 2015 lalu dan berhasil terpilih. Belakangan, Johnlis ternyata telah dilaporkan oleh warganya karena diduga menggunakan ijazah palsu saat ikut Pilkades.

Setelah Kades Matano ditetapkan sebagai tersangka, 12 orang pelaku penganiayaan itu ternyata menyimpan dendam dan mendatangi kediaman korban dengan melakukan tindakan penganiayaan. Warni dituding oleh pelaku sebagai pelapor dugaan ijazah palsu.

Kepala Satuan (Kasat) Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Luwu Timur, AKP Akbar A Malloroang yang dikonfirmasi, Jum’at (3/3/17) membenarkan adanya pengiriman berkas perkara tersangka kasus dugaan penganiayaan yang terjadi didesa Matano.

Dalam kasus ini, kata Akbar, pihaknya telah menetapkan sebanyak 12 orang tersangka terkait kasus penganiayaan tersebut. “Kita telah menetapkan 12 orang tersangka kasus ini. Berkas perkara juga sudah kita serahkan ke JPU untuk diteliti,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, tambah Akbar, tersangka telah dijerat pasal 170 subsider pasal 351 ayat 1 Jounto pasal 55 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun enam bulan penjara.

“Tersangka tidak kita tahan karena koperatif dan mereka datang sendiri ke kantor. Kami hanya mewajibkan mereka untuk melapor setiap hari Senin dan Kamis,” ungkap Akbar.

Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

Share This Article
PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser