Hantavirus Bikin Heboh, Warga Luwu Raya Diminta Jangan Abaikan Tikus

Asdhar
3 Min Read
Hantavirus kembali jadi perhatian dunia. Warga Luwu Raya diminta waspada penyakit dari tikus yang bisa sebabkan gangguan paru serius.

Keberadaan tikus di rumah, gudang, pasar hingga area persawahan kini tidak lagi dianggap sekadar gangguan biasa.

Di tengah ramainya pembahasan soal Hantavirus di berbagai negara, warga di wilayah Luwu Raya diminta mulai lebih waspada terhadap potensi penyakit yang dibawa hewan pengerat tersebut.

Perhatian terhadap hantavirus meningkat setelah muncul laporan dugaan kasus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di perairan Afrika Barat, awal Mei 2026.

Tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah lainnya menjalani perawatan akibat gangguan pernapasan serius.

Meski belum ditemukan lonjakan kasus di Luwu, Palopo, Luwu Utara, maupun Luwu Timur, tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan keberadaan tikus di lingkungan sekitar.

Apalagi, banyak wilayah di Luwu Raya memiliki aktivitas pertanian, perkebunan, gudang penyimpanan hasil panen, hingga saluran drainase yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya tikus liar.

Hantavirus menyebar melalui urine, kotoran, atau air liur tikus yang terkontaminasi. Virus bisa masuk ke tubuh manusia ketika debu dari area tersebut terhirup saat membersihkan rumah, gudang, atau bangunan yang lama tidak digunakan.

Yang membuat penyakit ini cukup berbahaya, gejalanya pada tahap awal sering dianggap penyakit biasa. Penderitanya bisa mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga tubuh lemas sebelum berkembang menjadi gangguan paru-paru berat.

Dalam beberapa kasus, hantavirus dapat memicu sesak napas serius hingga gagal napas.

Masyarakat yang sering bekerja di area rawan tikus, seperti petani, pekerja gudang, maupun warga yang membersihkan bangunan kosong, disarankan menggunakan masker dan sarung tangan untuk mengurangi risiko paparan.

Selain itu, warga juga diminta lebih disiplin menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk menutup makanan, rutin membuang sampah, membersihkan saluran air, serta menghindari tumpukan barang yang bisa menjadi sarang tikus.

World Health Organization menyebut hantavirus berbeda dengan COVID-19 dan belum termasuk wabah global. Namun penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal.

Sementara data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026, dengan sebagian besar pasien berhasil pulih.

Karena belum ada obat khusus untuk hantavirus, pencegahan melalui kebersihan lingkungan menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko penularan.

Share This Article