BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi, Nelayan di Luwu Pilih Tak Melaut

A Haris
3 Min Read
Perahu sejumlah nelayajn di Kabupaten Luwu rusak dan tenggelam akibat dihantam puting beliung dan hujan deras yang mengguyur daerah itu dalam beberapa hari terakhir (Bib)

Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, membuat aktivitas nelayan di pesisir Teluk Bone terganggu.

Sejumlah nelayan memilih menghentikan sementara aktivitas melaut setelah gelombang tinggi dan angin kencang menerjang perairan sejak beberapa hari terakhir.

Kondisi cuaca buruk ini juga dipicu hujan deras yang menyebabkan banjir dan angin puting beliung di sejumlah wilayah Kecamatan Larompong dan Larompong Selatan, Jumat (8/5/2026).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Luwu dan kawasan perairan Teluk Bone.

BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, serta gelombang kategori sedang hingga tinggi di wilayah perairan Sulawesi Selatan.

Kondisi tersebut diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Nelayan Khawatir Gelombang Tinggi

Warga pesisir mengaku mulai khawatir dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Beberapa nelayan memilih tidak melaut demi menghindari risiko kecelakaan di laut.

Bahkan, sejumlah perahu nelayan dilaporkan tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi dan cuaca buruk.

“Nelayan sekarang takut melaut karena ombak besar. Ada juga perahu yang tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi,” ujar Nurdin, warga Larompong.

Menurut warga, gelombang di perairan Teluk Bone dalam beberapa hari terakhir meningkat disertai angin yang cukup kuat.

Cuaca Buruk Picu Banjir dan Puting Beliung

Selain berdampak pada nelayan, hujan deras dan angin kencang juga menyebabkan banjir serta puting beliung di sejumlah wilayah Larompong dan Larompong Selatan.

Genangan air merendam rumah warga dan sempat mengganggu arus lalu lintas di jalur Trans Sulawesi akibat luapan air ke badan jalan.

Beberapa atap rumah warga di kawasan pesisir juga rusak diterjang angin kencang.

Dalam prakiraan cuaca sepekan ke depan, BMKG menyebut wilayah Sulawesi Selatan masih berpotensi mengalami hujan meski sebagian daerah di Indonesia mulai memasuki masa peralihan musim.

Fenomena atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer disebut masih mempengaruhi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan warga pesisir, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi, angin kencang, banjir, dan bencana hidrometeorologi lainnya.

Share This Article