Peringatan hari Pahlawan ke-68 yang berlangsung di pelabuhan Malili, dan dihadiri ratusan peserta upacara dari kalangan pegawai negeri sipil, Aparat TNI dan Polri serta Muspida Luwu Timur terkesan berjalan amburadul dan tidak hikmat.
Semrawutnya peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan, bermula dari tidak adanya pengeras suara (sound system) di lokasi upacara. Akibatnya, Kajari Malili, Ida Komang Ardhana yang bertindak sebagai komandan upacara terpaksa meminta kepada pembawa acara mengulang kembali urutan acara seperti hening cipta karena tidak kedengaran.
“Pihak Syahbandar selaku tuan rumah telah menyepakati untuk menyiapkan peralatan dan perlengkapan upacara termasuk sound system, namun hingga dimulainya pelaksanaan upacara jangankan sound sistem, tak satupun staf mereka yang hadir di lokasi acara,” ungkap Syahidin Halun, Ketua Panitia HUT Pahlawan di Luwu Timur, kesal.
Bahkan panitia pelaksana juga menyesalkan karena hal ini juga telah terjadi pada tahun lalu. Kekecawaan juga terpancar dari wajah Wakil Bupati Luwu Timur, Muhammad Thorig Husler, yang hadir bersama Kapolres Luwu Timur AKBP Rio Indra Lesmana, dan sejumlah pejabat lainnya.
“Hal semacam ini tidak boleh lagi terjadi, apalagi ini peringatan upacara resmi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Panitia seharusnya lebih tanggap dalam mempersiapkan acara,” kata Husler menyanyangkan. Upacara
hari pahlawan di Pelabuhan Malili diakhiri dengan penaburan bunga oleh muspida setempat.
Aco





