Sekitar 200 orang ulama, zuama dan cendekiawan muslim akan berada di Kota Palopo selama dua hari. Mulai hari Sabtu sampai hari Minggu, (7/8/12). Ratusan ulama ini hadir dalam rangka Seminar Cahaya Muharram 1435 Hijriah yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Sulawesi Selatan.
Wali Kota Palopo, Judas Amir, ketika membuka acara seminar tersebut mengatakan bahwa seminar ini sangat tepat dilakukan di Kota Palopo yang sementara menyusun rencana pembangunan untuk lima tahun ke depan.
“Hasil dari seminar ini mudahan bisa menjadi referensi bagi Pemkot Palopo untuk menyusun rencana pembangunan. Hal ini sangat relevan karena tema yang diseminarkan oleh para ulama ini antara lain mengenai pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan ekonomi syariah”, katanya.
Judas berharap cahaya Muharram dapat membangkitkan etos dan semangat perubahan untuk lebih baik. Selain itu, pemerintah Kota Palopo siap bekerja sama dengan MUI, karena peran ulama memang ditujukan sebagai pembimbing dan pelindung umat.
Ketua MUI Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Prof Abdul Rahim Yunus dalam sambutannya mengatakan, Kota Palopo merupakan satu dari empat Kota yang menjadi penyelenggara Cahaya Muharram 1435 Hijriah.
“Kami berharap, kedepan tidak hanya kegiatan seminar saja yang dapat dilakukan di kota ini, tetapi kegiatan-kegiatan lain seperti Diklat Kader Ulama yang menjadi program unggulan di MUI Sulsel”, kata Abdul Rahim Yunus.
Selain itu, dirinya berharap kepada Pemkot Palopo kiranya dapat memfasilitasi pendirian Perwakilan LP POM, sebagai salahsatu bentuk perlindungan konsumen dan masyarakat Kota Palopo. Selain itu, Prof Abdul Rahim Yunus juga mengingatkan agar pendidikan karakter dikedepankan dalam pembangunan sektor pendidikan di Kota Palopo.
“Saat ini kita menghadapi tantangan dengan banyaknya paham radikal dan liberal yang mempengaruhi anak-anak kita. Oleh karenanya, saya berharap dukungan dari Pemkot untuk bersama-sama membentengi umat dari hal-hal buruk seperti itu. Kerjasama ini penting karena pada dasarnya Pemerintah dan ulama mempunyai tugas yang sama. Hanya pendekatannya yang beda. Pemerintah melalui pendekatan hukum dan kekuasaan, sedangkan ulama fokus pada perlindungan umat,” jelasnya.
Sementara itu, ktua MUI Palopo, Syarifuddin Daud selaku Ketua Panitia dalam laporannya menyebutkan bahwa peserta seminar ini terdiri dari ulama, zuama dan cendekiawan muslim serta perwakilan ormas Islam, organisasi sosial dan LSM se- Tana Luwu dan Tana Toraja. Seminar yang diselenggarakan di Ballroom Hotel Palopo ini akan mengkaji perkembangan Dakwah, Pendidikan, Ekonomi Syariah dan Kebudayaan Islam.
“Tema yang kita angkat adalah Revitalisasi peran ulama, zuama dan umara dalam mengayomi serta memberdayakan umat”, kata Syarifuddin.




