Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I La Galigo Wotu, Rosmini Pandin menglaim jika dokter yang menolong pasien yang diduga terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah sesuai prosedur.
Hanya saja, kondisi pasien saat itu sudah tergolong kritis sehingga jarum infus tidak dapat masuk ke lengan dan kaki Aira (korban terduga DBD yang meninggal dunia) untuk pengambilan sampel darah.
“Dokter sudah melakukan tindakan medis yang benar karena kondisi pasien ketika itu sudah kejang-kejang dan shock, sehingga jarum infus tidak bisa masuk ke lengan dan kaki Aira untuk pengambilan sample darah untuk diuji di laboratorium,” ungkap Rosmini.
Menurut Rosmini, pasien juga terlambat mendapatkan penanganan medis karena keluarganya lambat membawa korban ke rumah sakit. Jika saja, kata Rosmini, korban langsung dibawa ke rumah sakit saat ada gejala pasti penanganannya akan lebih cepat dan nyawanya bisa terselamatkan.
“Dari keterangan keluarga pasien, korban sudah lima hari demam, tapi nanti setelah kondisinya cukup parah, baru dibawa ke rumah sakit,” ungkap Rosmini.
Dengan adanya kasus tersebut, Rosmini berharap tidak ada lagi kasus atau kejadian serupa. Dia mengakui jika Aira memang diduga menderita demam berdarah, dengan kondisi dan ciri fisik pada tubuh korban. Pihaknya bersama dinas kesehatan, terus mensosialisasikan pentingnya melakukan pencegahan, dengan gerakan 3 M.
“Saya sendiri, mengalami gejala demam dan trombosit darah menurun, makanya kami selau ingatkan, begitu ada gejala, segera laporkan atau bawa ke puskemas terdekat,” ungkap Rosmini.
Sebelumnya diberitakan, Aira, bocah tiga tahun ini dikabarkan telah meninggal dunia karena diduga terserang penyakit DBD. Bocah ini awalnya mengalami panas tinggi dan terlihat bintik-bintik merah pada badan korban tersebut.
Saat itu, ibu korban, Wiwin membawa anak semata wayangnya ini ke dokter praktek terdekat. “Menurut dokter anak saya hanya demam biasa saja,” kata Wiwin.
Penyakit korban pun semakin kritis, akhirnya bocah ini kembali dilarikan ke Puskesmas Mangkutana namun pihak puskesmas tersebut menyarangkan agar memberikan makanan saja ke Aira. “Kurang makan, jadinya disarankan agar diberikan makan saja,” ungkap Wiwin.
Tidak tahan melihat anaknya sakit, dengan dibantu tetangga, bocah ini langsung dilarikan ke RSUD I La Galigo Wotu. Sesampainya di rumah sakit, korban pun tidak diberikan penanganan medis melaingkan keluarga korban lagi-lagi disarangkan untuk bertemu dengan dokter anak terlebih dahulu. Selang beberapa jam kemudian bocah ini akhirnya meninggal dunia.
Alasan tersebut juga sempat membuat keluarga korban kesal. “Pihak rumah sakit juga tidak melakukan pemeriksaan mendalam termasuk mengambil sampel darah korban untuk diperiksa ataukah memberikan pelayanan medis darurat lainnya melaingkan hanya menyarangkan bertemu dengan dokter anak dulu,” ungkap Wiwi.
Berdasarkan data yang dihimpun, sejak Januari hingga Pebruari ini, terdapat 10 orang warga dari sejumlah Desa di Luwu Timur positif DBD namun kondisinya membaik setelah mendapatkan perawatan medis.




