Prediksi Bupati Meleset, Hewan Kurban Lutim Tak Sesuai Target

Asdhar
3 Min Read
Ilustrasi (NanoBanana)

Grafik pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Luwu Timur menunjukkan tren positif yang sangat mencengangkan pada pertengahan tahun ini. Fakta mengejutkan tersebut terlihat langsung dari lonjakan drastis angka partisipasi hewan kurban masyarakat Lutim menjelang Iduladha 1447 Hijriah.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, mengakui bahwa estimasi awal pihak pemerintah daerah terkait pasokan ternak tahun ini ternyata meleset jauh.

Sebelumnya, pemerintah daerah memprediksi total hewan kurban yang terkumpul dari warga hanya berkisar di angka 1.000 ekor saja.

Berdasarkan data rekapitulasi terbaru, jumlah riil kumulatif hewan kurban di Lutim justru melonjak hingga dua kali lipat lebih.

“Alhamdulillah, ini pertanda sahih bahwa kondisi isi dompet dan ekonomi masyarakat Luwu Timur sudah sangat membaik,” ujar Bupati Irwan, Selasa (26/5/2026).

Lompatan Angka Statistik Lampaui Capaian Tahun Lalu

Melalui laporan resmi Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), total pasokan tahun ini tercatat mencapai 2.019 ekor sapi dan 187 ekor kambing.

Angka fantastis tersebut menobatkan momentum lebaran kurban kali ini sebagai yang paling masif dalam sejarah kepemimpinan daerah.

Sebagai pembanding, stok kumulatif pada periode tahun 2025 lalu hanya berada di angka 1.506 ekor sapi serta 176 ekor kambing.

Kepala Bagian Kesra Luwu Timur, Amran Akmal, menegaskan bahwa data jumbo ini bahkan belum mencakup sumbangan dari korporasi besar.

“Data yang masuk ini murni himpunan manual dari laporan berkala setiap kepala desa dan camat se-Kabupaten Luwu Timur. Kami memastikan angka ini masih akan terus merangkak naik karena pelaporan hewan kurban perorangan belum rampung total,” jelas Amran Akmal.

Sinkron dengan Data BPS Terkait Penurunan Kemiskinan

Ledakan jumlah hewan kurban ini rupanya berbanding lurus dengan rilis data ilmiah dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan.

Tingkat pengangguran terbuka di wilayah lingkar tambang tersebut tercatat anjlok dari 4,58 persen menjadi 3,70 persen.

Keberhasilan serapan tenaga kerja ini otomatis memicu penguatan daya beli warga akar rumput secara signifikan.

Selaras dengan itu, persentase angka kemiskinan makro daerah juga ikut menyusut tajam dari posisi 6,55 persen menuju angka 5,79 persen saja.

Capaian empiris ini menjadi modal spiritual sekaligus bukti nyata bahwa program pemberdayaan ekonomi berjalan efektif di lapangan.

Tren positif ini diharapkan mampu menjaga marwah kemakmuran daerah demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

Share This Article