Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » Belajar Solusi Banjir dari Negeri Belanda
Metro

Belajar Solusi Banjir dari Negeri Belanda

Asdhar
Asdhar
7 Juli 2013
Share
11 Min Read
SHARE

Banjir bandang yang melanda Kota Palopo dalam beberapa tahun terakhir, ternyata masih menyisakan trauma yang mendalam bagi korban banjir. Warga khawatir, banjir serupa akan terjadi kembali, dan dibutuhkan kerja cepat pemerintah untuk mencari solusinya.

Berbicara tentang solusi banjir, tentu saja pemerintah kita perlu melakukan riset mendalam guna mencari solusi atas persoalan ini. Termasuk dengan mempelajari penyelesaian bencana banjir yang dilakukan di daerah lain bahkan di Negara lain.

Salah seorang warga Palopo yang tinggal di negeri Belanda, Hamus Rippin, pun pernah menyumbangkan idenya terkait solusi banjir di Kota Palopo, yang pernah dimuat pada artikel Luwuraya.com berjudul: Cerita Tentang Negeri Belanda. Yakni dengan mempelajari solusi pencegahan banjir dari negeri Belanda.

Baca Juga

PAD Tertekan, Dishub Palopo Buka Titik Layanan Baru untuk Dongkrak Pendapatan
Pemkab Luwu Timur Dukung Penambahan Kapal Basarnas untuk Perkuat Layanan SAR

Menurut Hamus, yang telah menetap di Negeri Belanda sejak tahun 1978, kondisi geografis Negeri Belanda miliki kemiripan dengan Kota Palopo. Dimana beberapa wilayah terdapat di kawasan pesisir, sementara beberapa wilayah lain terletak di dataran tinggi.

Di dataran tinggi, sejumlah wilayah di Negeri Belanda, kerap mendapat kiriman debit air dalam jumlah besar dari Negara tetangga. Sebut saja sungai Rijn dan sungai Maas, sungai yang mengalir dari Negara Belgia dan Swiss via Jerman, mengalir masuk di Belanda.

Uniknya lagi, kawasan pesisir Negeri Belanda, justru lebih rendah dari permukaan air laut. Lantas bagaimana solusi mereka untuk mencegah banjir yang berasal dari kiriman banjir Negara lain, dan terjangan air laut yang justru lebih tinggi permukaannya dibanding daratan?

Menurut Hamus, untuk mengatasi air kiriman dari aliran air sungai Rijn dan sungai Maas yang mengalir dari daratan Eropa yang bermuara di Belanda, di dalam wilayah Belanda air sungai besar ini dipecah hingga dikenal nama sungai Maas, Waal, Rijn dan Ijssel. Terbaginya aliran sungai besar ini terpencar, sehingga tidak terarah pada satu titik muara dengan demikian arusnya tidak deras, hal ini menjadikan muara dua sungai besar Eropa ini terbagi dan keluar di beberapa tempat.

Selain empat sungai disebut diatas, masih banyak sungai buatan dan kanal-kanal yang sengaja digali, untuk memudahkan hubungan dari satu sungai ke sungai lainnya, melalui kota-kota tertentu, dan memudahkan hubungan air. Solusi ini bahkan dapat dimanfaatkan oleh warga Belanda untuk mengangkut produksi dan bahan baku industri lewat sungai dengan mudah dan biaya transpor murah.

Hubungan pelayaran lewat air, atau sungai ini bukannya menghubungkan kota-kota di Belanda saja, tetapi pelayaran antara sungai ini menghubungkan antara negara Belanda melalui sungai Rijn ke Jerman, terus ke negera di bagian belakang Jerman, sedang sungai Maas dari Negeri Belanda ke Belgia sampai ke Francis dengan mudah dan murah.

Dari peletakkan kanal-kanal ini menjadikan hubungan transpor air di Belanda sangat mudah, pelayaran sungai sangat ramah yang memberikan keuntungan ekonomi karena biaya transpor lebih murah bila dibanding angkutan darat apalagi transpor udara.

Negeri kuncir Angin ‘Nederland’ tidak besar, tanahnya 41.548 km persegi atau berukuran empat kali lipat dari Kota Palopo, tetapi mempunyai penduduk yang padat, lebih 16 juta jiwa, penduduk ini utamanya dari bagian tanah rendah yang disebut orang Belanda Lage Landen, sekitar 60 persen penduduk Negeri Belanda mendiami daerah pesisir yang disebut ‘Randstad’ dalam lingkaran segi empat kota Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan Amsterdam.

Lantas, bagaimana Pemerintah Belanda mengatasi solusi banjir yang berasal dari air laut? Nederland tanahnya tidak semua rendah dan terletak di bawah permukaan air laut. Hanya dipesisir pantai dari Belgia sampai dengan provinsi-provinsi yang terletak disebelah Utara yaitu provinsi Groningen dan Friesland.

Membangun Nederland dari tanah tergenang air menjadi daratan yang didiami manusia, tidak disulap sebagaimana cerita dongeng ‘lampu ajaib atau lampu Aladin’ dalam cerita ’seribu satu malam’. Nenek moyang orang Belanda mulai bekerja keras membangun negerinya secara bertahap.

Mereka pertama membuat duinen (pematang raksasa). Meletakkan bukit pasir mengelilingi tanah yang rendah letaknya. Bagian tanah yang disebut ‘Lage landen’ dari arah laut yang membentang dari negara Belgia sekarang sampai provinsi Groningen dan Frisland, di Belanda bagian Utara. Selain dari arah laut juga diletakkan pematang pada pinggir-pinggir sungai yang rendah letaknya.

Dari pematang yang berbentuk bukit pasir yang sudah diletakkan, kemudian ditanami berbagai jenis rumput dan belukar dari berbagai pohon kayu. Kayu dan belukar, setelah tumbuh, akar-akar dari tumbuhan ini merekat tanah pasir bercampur daun kayu yang sudah membusuk, bersatu, yang disebut orang Belanda veenklei. Tumbuhan yang ditanam lambat laun akarnya membukit di atas pasir, hingga tanah pasir tahan, tidak longsor dan tidak terkikis air pasang, surut dan ombak.

Perjalanan masa, lambat laun tanah pasir -veenkleien- yang berada dalam lingkaran duinen yang sudah terputus hubungannya dengan air laut (air pasang-surat), kemudian jadi mekar, lama-lama timbul daratan. Daratan; tanah pasir yang sudah timbul, masih dimana-mana terpencar sisa kumpulan air dalam danau kecil, yang berbentuk telaga. Dan daratan dari kemekaran veenklei didalam lingkungan duinen timbul ini disebut ‘Folder’.

Sisa air yang di mana-mana tergenang di danau kecil, dikenal dengan nama ‘lagunes’ dan ‘plassen’. Selanjutnya plassen-plassen ini dikeringkan menyusul, dengan jalan memompa airnya keluar, lama-lama daratannya jadi bertambah.

Perjalanan masa, juga semakin banyak orang datang mendiami Lage landen, dari bagian Negeri Belanda yang bertanah rendah (Nederland). Makin bertambahnya manusia mendiami Lage landen ini, memudahkan pekerjaan. Banyaknya orang datang mendiami tanah rendah di pesisir pantai atau ‘lage landen bij zee’ berarti makin mudah kerja sama mereka.

Langkah selanjutnya, tanah yang tidak dilindungi duinen dari arah laut (pasang surut), diberikan pelindung raksasa, dibuatkan tanggul. Tanggul raksasa diletakkan, sepanjang pantai dari Belgia sampai provinsi Frisland dan Groningen dari arah laut yang dikenal di Negeri Belanda dengan nama ‘Dijken’.

Dijken ini melindungi bagian tanah rendah dipinggir laut dan pinggiran sungai-sungai besar, utamanya dua sungai besar Eropa yang bermuara di Nederland. Hal ini masih dapat disaksikan sampai sekarang di pinggir pantai pada provinsi Zeeland, Noord Holland (Holland Utara), Frisland dan Groningen.

Sepanjang pinggiran sungai yang rendah letaknya di Nederland dilindungi atau dibuatkan tanggul antara air sungai dan daratan, sekitar empat meter tingginya, tergantung tinggi rendahnya letak tanah dipinggir sungai atau kanal dimaksud.

Selain dari pada duinen dan Dijken yang diletakkan pada pinggir laut dan sungai-sungai yang tanahnya rendah, pula diletakkan Dam.

Dam ini dibuat antara dua daratan yang yang dianggap rawan dan berbahaya, karena sewaktu-waktu kalau terjadi topan dahsyat dan angin ribut serta air pasang besar menyebabkan air dan gelombang naik beberapa meter tingginya, hingga dapat mengakibatkan bencana air bagi penduduk yang mendiami wilayah yang tidak kuat -dam- yang melindunginya. Menurut catatan dari berbagai sumber, tanggul atau Dijk yang termuda di lage landen, dibangun sekitar lebih seribu tahun lalu. Yaitu sekitar 1.000 tahun sesudah Masehi.

Dari bekas lagunes dan plassen yang sudah dikeringkan airnya, tersisa tanah yang masih terlihat rendah letaknya.Tanah terendah Negeri Belanda dari bekas lagunes yang sudah dikeringkan atau ‘folder’ masih orang lihat disatu tempat ‘Prins Alexanderfolder’ yang letaknya lebih enam meter di bawah titik permukaan laut.

Tetapi selain dari bagian tanah rendah, di Negeri Belanda terdapat juga tanah yang tinggi letaknya, tanah tinggi ini dapat dilihat pada provinsi bagian Selatan di ‘Limburg’. Provinsi yang berbatasan dengan Belgia dan Jerman, pada pembukitan yang bernama ‘Vaalserberg’ dengan ketinggian 323 meter, sekaligus tanah yang tertinggi di Negeri Belanda. Pembukitan daerah Selatan ini merupakan tanah tertinggi di Negeri Belanda. Karena daratan tinggi dan pegunungan tidak dimiliki Negeri Belanda.

Orang-orang Belanda memperluas dataran dari Nederland dimulai tahun 1575-1650. Genangan air yang masih terpencar di bagian tanah rendah, diletakkan pematang mengelilinginya, kemudian airnya dipompa keluar. Pengeringan tanah-tanah lagune yang dilakukan disebutkan ‘inpolderingproject’, proyek pengeringan dan perluasan daratan.

Pengeringan tanah baru dari plassen tadi orang menggunakan kuncir angin memompa air sampai kering, tanah pasir yang kering lama-lama mengeras dan daratan negeri Belanda makin bertambah luas.

Walaupun semua usaha orang-orang Belanda ini menjadikan Lage landen aman dari ancaman bahaya dan bencana air, sehingga mereka sudah menyatakan Lage landen sudah aman dari ancaman air, tetapi masih terjadi kebobolan.

Namun, pada 1 Februari 1953, kejadian yang tidak pernah orang Belanda membayangkan sebelumnya dan peristiwa ini tidak akan dilupakan di Nederland. Petaka ini dikenal dengan nama ‘bencana air’ atau –watersnoodramp– peristiwa pecahnya tanggul dipinggir pantai provinsi pesisir Zeeland pada bulan februari 1953.

Tanggul raksasa yang setinggi 4,55 meter ini ternyata tidak tahan dari ombak dan badai, hingga dibobol oleh air laut, menyebabkan provinsi ini tenggelam, separuh tanahnya tersapu air, mengakibatkan 1.800 orang meninggal dunia. Hewan-hewan tidak terhitung banyaknya yang musnah dan kerugian harta banyak sekali.

Kejadian pecahnya tanggul raksasa ini senantiasa dikenang dengan nama ‘waternoodramp’ atau bencana air. Orang Belanda berjanji tidak akan melupakan dan akan mengamankan Negerinya semaksimal mungkin, hingga kejadian ini tidak terulang kedua kalinya bencana yang sama.

Setelah kejadian bencana air ini, pemerintah Kerajaan Belanda mengadakan satu pekerjaan yang bernama proyek ‘deltawerken’, Proyek delta ini adalah pembendungan air laut di jazirah –Oosterschelde– dengan meletakkan bendungan terbuka, satu tanggul raksasa yang diletakkan di provisi yang pernah tertimpa bencana. Proyek delta ini menghubungkan antara daratan Zeeland dengan pulau-pulau di sebelah (di Oosterschelde) dan nama bendungan raksasa ini ‘Oostterschelde vloegkering’. (*)

Foto ini menggambarkan tingginnya bendungan dari permukaan air, agar tidak terjadi lagi kebobolan, sebagai mana yang pernah terjadi bulan februari tahun 1951 (Hamus Rippin)

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

Siswa Luwu Timur Nur Aqila Ikut Bintang Sobat SMP 2026, Siap Bersaing Skala Nasional
Permenaker Baru Batasi Outsourcing, PT Vale Evaluasi Dampak ke Operasional
Bencana Pomalaa, PT Vale Salurkan Bantuan dan Turunkan Tim Darurat
Pasca Solar Subsidi SPBU Lutim Viral, Pertamina Temukan Kejanggalan Volume Pengisian
Bupati Luwu Timur Tinjau RSUD, Soroti Antrean Pasien dan Percepat Pelayanan Kesehatan
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Previous Article Banjir di Pajalesang, Warga Memilih Mengungsi
Next Article Diajak Hadiri Bazaar, ABG Malang Ini Malah Nyaris Diperkosa
Metro

Pemkab Luwu Timur Dukung Penambahan Kapal Basarnas untuk Perkuat Layanan SAR

Pemkab Luwu Timur mendukung penambahan kapal rescue dan personel Basarnas untuk memperkuat…

5 Mei 2026
Pendidikan

Siswa Luwu Timur Nur Aqila Ikut Bintang Sobat SMP 2026, Siap Bersaing Skala Nasional

Siswa Luwu Timur, Nur Aqila, ikut seleksi Bintang Sobat SMP 2026 dan…

5 Mei 2026

Rekomendasi Berita lainnya

Video

Lada Luwu Timur: ‘Emas Hitam dari Timur’ yang Mendunia

4 Mei 2026
Pendidikan

Luwu Timur Dorong Transformasi Pendidikan Lewat Deep Learning

4 Mei 2026
Pendidikan

UIN Palopo Tambah Tiga Guru Besar, Total Kini 12 Profesor

4 Mei 2026
Metro

Andi Rahim Targetkan Penyelesaian Bantuan Rumah Terdampak Bencana Tuntas Juni 2026

4 Mei 2026
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?