Ratusan nelayan di Desa Lampia, dan Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, melakukan protes dan memblokir jalan masuk ke Mangkasa Point, lokasi pelabuhan milik PT Vale Indonesia. Aksi demonstrasi ini sudah digelar sebanyak dua hari, dan hingga kini belum menemukan kesepakatan antara warga dengan manajemen perusahaan.
Protes warga itu dipicu oleh kerugian yang dialami nelayan sejak beberapa bulan lalu, dimana mereka menuduh pihak PT Vale Indonesia telah mencemari laut di sekitar Desa Lampia dengan tumpahan High Sulfur Fuel Oil (HSFO).
Perwakilan warga, Muzakkir mengatakan tumpahan minyak ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun, kondusi terparah baru terjadi sejak dua bulan terakhir, apa,agi disaat ada kapal tanker yang tiba untuk menyalurkan minyak milik perusahaan.
“Perhitungan sementara kami, tumpahan minyak di laut sudah sebanyak 1.500 liter, hitungan ini berdasarkan luas wilayah laut yang terdampak pencemaran,” ungkap Muzakkir.
Tumpahan minyak ini, dinilai sangat merugikan masyarakat, terutama nelayan setempat. Pasalnya, alat tangkap yang digunakan umumnya mengalami kerusakan, seperti pukat, bubu, bila, dan rompon.
“Akibatnya, pendapatan nelayan setempat sejak dua bulan terakhir mengalami penurunan signifikan. Masyarakat jadi jarang melaut karena alat tangkap yang mengalami kerusakan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, hasil perikanan nelayan juga mengalami penurunan yang diduga disebabkan oleh rusaknya biota laut akibat pencemaran ini.
Tasdim (49), salah seorang nelayan setempat mengaku hasil laut yang diperoleh nelayan mengalami pengurangan signifikan. Dia mengaku, saat ini hanya bisa melaut sebanyak dua kali dalam sebulan, dengan hasil yang diperoleh sangat minim.
“Sebelum ada kejadian ini, hampir tiap hari kami melaut, dan mendapatkan hasil sekitar dua basket (keranjang) ikan. Namun saat ini, untuk mendapatkan setengah basket saja sulit, itupun kami tidak bisa melaut setiap hari,” ujarnya.
Dia pun membeberkan, jika biota laut khas sekitar wilayah Teluk Bone itu, yang selama ini melimpah di sekitar Desa Lampia, saat ini juga sudah sulit didapatkan, seperti Taripang, Kima, bia-bia, dan lainnya.
“Kawasan Lampia dahulu dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan taripang sangat besar, namun saat ini sangat sulit didapat. Kami menduga, hilangnya jenis biota laut ini disebabkan karena pencemaran ini,” ujar Tasdin.
Terkait demo warga tersebut, General Manager Communication PT Vale Indonesia, Tbk, Teuku Mufizar yang dikonfirmasi mengatakan jika dirinya saat ini dalam keadaan cuti. “Saya lagi cuti, Senin baru masuk kantor,” ungkap Mufizar melalui Black Barry Masenger (BBM).
Pantauan luwuraya.com, protes warga itu diikuti dengan pemblokiran jalan masuk Mangkasa Point. Warga menggunakan batang pohon untuk memblokir jalan. Mereka mendesak kepada manajemen PT Vale Indonesia untuk segera melakukan pembersihan atas laut yang tercemar, dan memberikan kompensasi kerugian yang dialami masyarakat.
Warga juga menuntut agar pemerintah segera menunjuk tim independen untuk melakukan penelitian terkait kerusakan biota laut yang terjadi di wilayah Lampia dan sekitarnya ini.





