Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi mengaku bingung melihat langkah yang dilakukan oleh mahasiswa hingga melakukan aksi penyegelan terhadap mess Pemerintah Daerah (Pemda) Luwu Utara yang ada di Makassar.
“Saya juga bingung kenapa mereka (mahasiswa) segel mess, apa salah saya,” ungkap Arifin Junaidi, saat ditemui awak media, di Warung Kopi (Warkop) Bintaro, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.
Arjuna sapaan akrab Arifin Junaidi mengatakan, sebelumnya, mahasiswa pernah melakukan audiens kepada dirinya namun agenda mahasiswa tersebut tidak diindahkannya karena beberapa faktor. “Andai saja mereka datang dengan cara baik-baik, sudah pasti saya penuhi audiens nya itu,” ungkapnya.
Arjuna juga tidak akan memperdulikan mahasiswa yang saat ini masih melakukan penyegelan pada mess itu. Namun, kata Arjuna, jika mahasiswa sampai nekat melakukan tindakan anarkis hingga terjadi pengerusakan fasilitas mess tersebut maka dirinya tidak segan-segan mempersoalkan kasus ini kepihak yang berwajib.
“Biarkan saja mereka duduki mess itu, tapi kalau sampai mereka anarkis dan merusak fasilitas mess, mereka akan berhadapan dengan aparat,” ancam Arjuna.
Terkait banyaknya botol minuman keras (Miras) yang ditemukan didalam mess itu, Arjuna malah menduga kalau pemilik botol miras tersebut adalah milik mereka yang saat ini menduduki mess itu.
“Kan selama ini mereka yang duduki mes, jadi bisa saja mereka sendiri yang punya ulah, sebagai manusia biasa itu bisa saja terjadi,,kurang apa kita ini sama mereka, mereka juga selama ini biasa menggunakan mess tersebut hingga berbulan-bulan, apa sebenarnya yang mereka inginkan,” ungkap Arjuna.
Kedatangan Arjuna di Kabupaten Luwu Timur ini dalam rangka menghadiri acara syukuran Dinas Kesehatan (Dinkes) Luwu Utara yang dilaksanakan di Mess Pemda Luwu Utara, di Soroako, Kecamatan Nuha.
Hingga saat ini, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Indonesia Luwu Utara (Pemilar) memilih menduduki dan menyegel Mess Pemda Luwu Utara yang berada di Jl Pengayoman Makassar, Senin (09/03/15) hari ini.
Penyegelan Mess Pemda Luwu Utara tersebut merupakan buntut kekecewaan mahasiswa karena menilai tidak adanya perhatian Pemerintah Luwu Utara dalam mengantisipasi konflik antar masyarakat di daerah itu. (*)




