Obrolan santai tapi penuh makna datang dari podcast OSIS UPT SMP Negeri 2 Malili. Dalam episode terbaru, Dita Genre Luwu Timur, Revalina Silvia De’e berbagi cerita soal perjalanan, kegagalan, hingga keberaniannya keluar dari zona nyaman—sesuatu yang menurutnya masih jadi tantangan banyak remaja hari ini.
Di tengah isu remaja yang makin kompleks, mulai dari mental health hingga pergaulan, Reva, sapaan akrabnya, mengaku tak ingin hanya jadi penonton.
“Saya lihat isu remaja itu banyak sekali. Saya tidak mau cuma lihat, tapi ingin jadi bagian dari solusi,” ujar Alumni SMP negeri 2 Malili itu santai.
Sebagai Duta Genre Luwu Timur 2025, Reva memang punya peran lebih dari sekadar gelar. Ia menjadi jembatan informasi bagi remaja lain, menyampaikan isu-isu penting dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.
Dalam podcast yang dipandu Marzahira Saputri itu, Reva juga blak-blakan soal perjalanan dirinya. Ia sudah tertarik ikut Duta Genre sejak SMP, tapi harus menunggu hingga memenuhi syarat.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada fase ragu, gagal, hingga merasa tertinggal. Tapi justru dari situ, ia belajar.
“Kadang tidak apa-apa salah langkah, yang penting kita mau belajar,” katanya.
Reva mengaku, masa-masa di UPT SMP Negeri 2 Malili menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter dan kepercayaan dirinya. Lingkungan sekolah yang aktif dan dukungan guru disebutnya memberi ruang untuk mencoba banyak hal sejak dini.
Ia aktif di berbagai kegiatan seperti PIK-R, OSIS, hingga PMR—pengalaman yang kemudian membentuk cara berpikir dan kemampuannya beradaptasi dengan banyak orang.
“Saya bersyukur pernah sekolah di sini, guru-gurunya sangat suportif dan selalu mendorong saya untuk berkembang,” ungkapnya.
Bagi Reva, tantangan terbesar bukanlah kompetitor, melainkan diri sendiri. “Yang paling sulit itu melawan rasa takut diri sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal pentingnya menjaga pergaulan di era sekarang. Menurutnya, remaja boleh berteman dengan siapa saja, tapi tetap harus punya prinsip.
“Jangan sampai kita terbawa arus. Harus punya pendirian,” tegasnya.
Tak hanya itu, Reva juga berbagi tips sederhana untuk membangun kepercayaan diri—sesuatu yang sering jadi kendala pelajar.
“Mulai saja dari hal kecil, seperti berlatih bicara. Kalau terbiasa, nanti percaya diri akan ikut terbentuk,” jelasnya.
Di akhir obrolan, ia memberi pesan yang cukup relate untuk pelajar, jangan terlalu nyaman di zona sendiri.
“Kalau kita terus di zona nyaman, kita tidak akan berkembang,” ucapnya.
Lewat cerita yang ringan tapi jujur, Reva menunjukkan bahwa proses menuju prestasi tidak selalu lurus. Ada jatuh, ragu, bahkan air mata—tapi semua itu bagian dari perjalanan untuk jadi lebih baik.





