Ratapan doa penuh air mata dari Sutrawati akhirnya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Sebab, sang putra sulung, Andi Angga Prasadewa (33), dikabarkan telah resmi bebas dari fasilitas penahanan militer Israel, Kamis (21/5/2026).
Sebelumnya, relawan kemanusiaan berdarah Luwu ini mengalami penahanan secara dramatis di perairan internasional dekat Siprus.
Militer Israel menahan Angga bersama delapan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya saat mengawal kapal Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Jalur Gaza.
Hingga berita ini tayang, pihak keluarga Andi Angga di Luwu belum memberikan komentar resmi mengenai kabar bahagia tersebut.
Keluar dari Penjara Ktziot dan Proses Deportasi
Kepastian mengenai kebebasan pahlawan kemanusiaan asal Luwu ini berasal dari pihak Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, menyampaikan bahwa seluruh aktivis kini sudah keluar dari Penjara Ktziot Israel pada Kamis (21/5/2026).
Saat ini, alumni Teknik Sipil Universitas Cenderawasih tersebut sedang menjalani proses deportasi resmi untuk keluar dari wilayah Israel.
Angga bersama rombongan delegasi Indonesia akan terbang melalui Bandara Ramon menuju Kota Istanbul, Turki.
“Tim hukum terus melakukan pemantauan ketat di lapangan. Kami ingin memastikan seluruh aktivis, termasuk WNI, dapat keluar dengan aman tanpa penundaan tambahan,” ujar Harfin melalui keterangan resminya.
Andi Angga, Pemuda Pemberani Kebanggaan Bumi Sawerigading
Bagi masyarakat Luwu Raya, sosok Andi Angga memang memiliki tempat tersendiri di hati warga. Pemuda yang menghabiskan masa kecilnya di Kota Palopo ini dikenal sebagai relawan garis depan yang aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan di tanah air.
Angga tercatat pernah terjun langsung membantu penanganan pascabencana tsunami Aceh. Bahkan, ia juga berada di garda terdepan saat mengevakuasi korban bencana banjir bandang Luwu pada tahun 2024 lalu.
Melalui kabar pembebasan ini, kecemasan mendalam yang sempat menyelimuti kediaman keluarga di Poros Makassar-Palopo kini berubah menjadi sujud syukur.
Dengan demikian, harapan sang ibu untuk kembali memeluk anak sulungnya yang berangkat murni karena panggilan hati itu akan segera terwujud.

