Kisah Ibu Fani dan Sepeda Motor dari Bupati Luwu Timur

Asdhar
4 Min Read
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam bersama Ketua TP PKK Luwu Timur, Ani Nurbani mendengarkan cerita seiorang penjualan di kawasan UMKM Al Ma’un Corner binaan Komunitas Berbagi Al-Maun Sorowako, Kecamatan Nuha (Sumber: Dinas Kominfo SP Luwu Timur)

Lapak sederhana di kawasan UMKM Al Ma’un Corner Sorowako, Kecamatan Nuha, mendadak senyap pada Rabu, 20 Mei 2026.

Kunjungan kerja Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam bersama Ketua TP PKK, Ani Nurbani yang semula berjalan biasa, seketika berubah menjadi momen penuh haru dan emosional.

Di hadapan orang nomor satu di Bumi Batara Guru tersebut, seorang ibu pelaku UMKM bernama Fani Sabrina (40) berdiri dengan suara bergetar.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia memberanikan diri menumpahkan seluruh beban hidup yang selama ini dipikulnya sendirian di balik meja dagangannya.

Fani adalah potret nyata perjuangan seorang ibu. Ia harus menghidupi empat orang anak dengan kondisi serba keterbatasan.

Nestapanya kian berlapis karena dua anaknya kini terpaksa putus sekolah akibat terkendala urusan administrasi surat pindah dari sekolah lama mereka di Kabupaten Luwu.

Sementara itu, satu anaknya masih balita, dan satu lainnya terpaksa di titip di rumah sang kakek dan nenek.

Namun, yang paling memukul hati rombongan bupati hari itu adalah saat Fani menunjuk sudut-sudut lapak jualannya yang sempit.

Di sanalah, di antara barang dagangan dan dinding papan yang seadanya, Fani bersama anak-anaknya menghabiskan malam untuk tidur.

Bertahan di Lapak Demi Menyambung Hidup

Fani terpaksa menjadikan tempatnya mencari nafkah sebagai tempat tinggal karena tidak memiliki hunian yang layak.

Sebelumnya, ia sempat menumpang hidup di area ruang perpustakaan Rusunawa Sorowako lantaran tidak kebagian kamar.

Namun, jarak dari Rusunawa menuju lokasi UMKM Al Ma’un Corner ternyata sangat jauh. Tanpa adanya kendaraan pribadi, Fani tidak punya pilihan lain.

Demi menghemat biaya dan tenaga, ia memboyong anak-anaknya untuk menetap dan tidur di dalam lapak yang jauh dari kata nyaman.

Mendengar bait demi bait cerita pilu tersebut, raut wajah Irwan Bachri Syam bersama sang istri langsung berubah guram.

Keharuan yang mendalam tampak jelas di wajah mereka. Tanpa perlu birokrasi yang berbelit-belit, respon cepat langsung lahir dari instruksi sang bupati.

Di lokasi yang sama, Bupati langsung memerintahkan Camat Nuha, Arief Fadillah Amier, untuk bergerak cepat menghentikan penderitaan keluarga kecil ini.

Camat diinstruksikan segera mencarikan dan memfasilitasi hunian yang layak bagi Fani dan anak-anaknya di Rusunawa Sorowako.

Selain itu, sang bupati yang telah mengetahui kendala mobilitas harian Fani dari Rusunawa ke tempat jualan, Irwan spontan berjanji akan memberikan bantuan satu unit sepeda motor secara pribadi.

Bantuan ini disiapkan agar Fani bisa fokus berdagang tanpa perlu lagi mengorbankan kenyamanan anak-anaknya untuk tidur di lapak jualan.

Terkait masa depan pendidikan dua anak Fani yang sempat terhenti, Irwan memberikan ketegasan yang mutlak.

Pemerintah daerah melalui instansi terkait akan pasang badan mengurus surat pindah dari Kabupaten Luwu agar anak-anak tersebut bisa segera kembali memegang buku di dalam ruang kelas.

“Bagaimanapun juga anak tidak boleh putus sekolah,” tegas Irwan dengan nada bicara yang berwibawa.

Sebagai jaring pengaman ekonomi jangka panjang, Pemkab Luwu Timur juga berkomitmen memulihkan hak Fani agar terdaftar kembali sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) yang sempat terputus.

Mendengar rentetan solusi nyata yang datang bagai mukjizat di siang bolong itu, pertahanan air mata Fani Sabrina akhirnya runtuh.

Sambil terisak di hadapan bupati dan rombongan, ia berkali-kali melangitkan doa atas kebaikan yang ia terima.

“Semoga bapak Bupati bersama ibu selalu diberikan kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang lancar,” ucap Fani, menutup perjumpaan siang itu dengan tangis syukur yang mendalam.

Share This Article