Pemerintah Kabupaten Luwu berkomitmen memaksimalkan pengelolaan potensi daerah secara terintegrasi melalui pemetaan tiga sektor utama, yakni wilayah pegunungan, dataran pertanian, hingga sektor kelautan.
Langkah taktis ini diambil agar kekayaan sumber daya alam Bumi Sawerigading dapat memberikan kontribusi langsung bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
Cetak biru pemetaan potensi ekonomi makro tersebut ditegaskan oleh Wakil Bupati Luwu, Muhammad Dhevy Bijak Pawindu dalam forum Sarasehan dan Tudang Sipulung Tingkat Kabupaten Luwu Tahun 2026.
Agenda musyawarah adat agraris ini berpusat di Lapangan Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, Rabu (20/05/2026).
“Kabupaten Luwu memiliki potensi luar biasa yang sangat lengkap, mulai dari wilayah pegunungan, sektor pertanian dan perkebunan, hingga potensi kelautan. Seluruh potensi ini harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik untuk mendorong kemajuan daerah,” ujar Dhevy Bijak.
Ponrang Sebagai Lumbung Pangan Daerah
Dalam peta zonasi tersebut, Dhevy Bijak memberikan perhatian khusus pada sektor dataran pertanian.
Dirinya menyebut wilayah Ponrang dan sekitarnya memiliki kontribusi paling besar dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan Kabupaten Luwu, sehingga memerlukan pengawalan sarana dan prasarana secara berkelanjutan.
Guna mendukung produktivitas petani di lumbung pangan tersebut, Pemkab Luwu secara konsisten menyalurkan bantuan teknologi pertanian modern serta melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani harian.
Pola tanam yang efektif dan efisien terus diterapkan demi mengejar target swasembada pangan nasional.
Dhevy Bijak mengatakan dengan menyatukan sinergi antara wilayah pegunungan yang kaya hasil hortikultura, daratan yang produktif dengan padi, serta pesisir pantai dengan hasil lautnya, Luwu mampu bertransformasi menjadi daerah dengan kemandirian ekonomi yang tangguh.
Rumuskan Kalender Tanam Lewat Tudang Sipulung
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Luwu, Dahsyan Lubis menjelaskan bahwa forum Tudang Sipulung yang diinisiasi bersama Dinas Pertanian ini menjadi ruang krusial untuk menyamakan persepsi.
Seluruh pemangku kepentingan duduk bersama guna mengunci rumusan jadwal musim tanam periode 2026–2027.
Sinergi kultural ini dinilai sangat efektif untuk meminimalisasi konflik air maupun ancaman serangan hama kelurahan yang kerap merugikan petani.
Keterlibatan pihak swasta dan penyuluh lapangan di dalam forum juga menjadi jaminan atas ketersediaan pupuk dan benih berkualitas di awal musim.

