Ratapan Ibu Relawan Berdarah Luwu yang Ditangkap Israel: Anak Saya Bukan Teroris

A Haris
3 Min Read
Andi Angga Prasadewa (Sumber: IG)

“Allahu Akbar, Ya Allah Anakku. Jaga ya Allah Anakku. Lindungi ya Allah Andi Angga. Sehat ya Nak, Kembali dengan Selamat. Bunda Menunggu Kakak kembali ya Nak, kembali bersama rekan-rekannya. Ya Rabb…”

Ratapan doa itu mengalir deras bersama tumpahan air mata Sutrawati. Kalimat yang bergetar penuh kecemasan tersebut menjadi detak batin terdalam seorang ibu yang kini dirundung nestapa.

Putranya, Andi Angga Prasadewa (33), dikabarkan ditahan oleh militer Israel di perairan internasional dekat Siprus saat mengawal misi kemanusiaan kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Jalur Gaza.

Kabar penangkapan di Laut Mediterania itu seketika memukul dunia kemanusiaan, tak terkecuali bagi masyarakat di Bumi Sawerigading.

Nama Andi Angga memiliki ikatan emosional yang teramat kuat dengan Kabupaten Luwu. Berdarah Luwu, masa kecilnya dihabiskan dengan menempuh pendidikan TK hingga SD di Kota Palopo, sebelum akhirnya ia pindah ke Kota Makassar.

Bagi warga Luwu, Angga bukanlah orang asing. Ia adalah pemuda pemberani yang berada di garda terdepan, bertaruh peluh membantu mengevakuasi korban bencana banjir bandang Luwu pada tahun 2024 lalu.

“Angga memang sudah lama tertarik pada aktivitas kemanusiaan. Mulai dari penanganan pascabencana Aceh hingga banjir bandang Luwu kemarin, dia selalu ikut rombongan,” tutur sang ayah, Andi Hamzah, saat ditemui di kediamannya di Poros Makassar-Palopo, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu.

Dari Mabuk Laut Hingga Dikepung Militer

Sebelum ruang komunikasi itu terputus total dan senyap, Angga yang berada di dalam kapal Josef sempat mengirimkan kabar terakhir kepada keluarga.

Di tengah luasnya perairan Mediterania, pemuda tangguh ini sempat mengeluhkan mabuk laut akibat hantaman cuaca ekstrem yang mengguncang kapalnya.

Namun, rasa mual dan letih itu belum seberapa dibanding ujian berat yang menghadangnya kemudian, kepungan militer bersenjata.

Andi Angga Prasadewa merupakan satu-satunya delegasi resmi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bersama Lembaga Rumah Zakat yang menempuh jalur laut ekstrem demi menembus blokade Gaza. Di dalam lambung kapal yang diadang tersebut, tidak ada senjata ataupun amunisi perang.

Sebagai lulusan Teknik Sipil Universitas Cenderawasih Papua, Angga berangkat dengan bekal ilmu dan ketulusan. Rombongan ini murni membawa muatan logistik makanan, susu bayi, serta pasokan obat-obatan dasar untuk warga sipil Palestina yang tengah menderita.

Desakan Diplomasi: “Anak Saya Bukan Teroris”

Kini, di kediaman keluarga, yang tersisa hanyalah ruang tunggu yang penuh dengan kecemasan dan doa yang tak putus-putus.

Pihak keluarga bersama Lembaga Rumah Zakat mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil tindakan diplomatik yang tegas dan berwibawa guna membebaskan Angga serta relawan kemanusiaan lainnya.

Bagi sang ibu, setiap detik yang berlalu adalah siksaan ketidakpastian. Di tengah rasa waswas yang mendalam, Sutrawati terus menyuarakan kebenaran tentang profil anak sulungnya di mata publik harian.

“Anak saya bukan teroris. Dia berangkat ke Gaza tanpa senjata, murni karena panggilan hati untuk menolong sesama,” pungkas Sutrawati, mengunci kalimatnya dengan harapan besar agar sang putra bisa segera pulang dan kembali memeluknya di tanah air.

Share This Article