Tim verifikator dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pusat turun langsung ke ujung timur Sulawesi Selatan ini guna meninjau kelayakan Komunitas Pejuang Muda Wija To Cerekang (PMWTC) yang masuk sebagai calon penerima Penghargaan Kalpataru 2026.
PMWTC akan bersaing dengan Kelompok Tani Banawa Sekar, dari Jawa Tengah sebagai nominator Penghargaan Kalpataru Adya Kategori Penyelamat Lingkungan.
Bagi pemerintah dan masyarakat, nominasi ini adalah prestasi seremonial yang membanggakan. Namun bagi ratusan pemuda adat di Cerekang, verifikasi lapangan tersebut jauh lebih dalam dari sekadar urusan administratif.
Itu adalah pengakuan atas tetesan keringat, keberanian, dan ketulusan komunal yang telah berjalan selama satu dekade terakhir.
“Kami tidak pernah menyangka perjuangan kami yang sederhana ini bisa sampai pada tahap seperti ini. Ini bukan keberhasilan saya pribadi, ini milik seluruh anggota komunitas, milik masyarakat Cerekang yang selama ini berjuang bersama kami menjaga alam yang telah menghidupi kita,” ujar Ketua PMWTC, Adnan.
Untuk benar-benar mengenal siapa mereka, kita harus mundur ke belakang, menyusuri aliran sungai, dan mendengarkan bisikan rimbunnya pohon mangrove yang mereka jaga.
Sumpah Leluhur dan Lahirnya Tameng Adat
Hutan Adat To Cerekang membentang seluas 679,4 hektar di balik lekukan Teluk Bone. Kawasan sakral ini merupakan pusat kehidupan spiritual dan ekologis komunitas.
Dalam tradisi lisan dan epos I La Galigo, tempat ini diyakini sebagai asal-usul Tomanurung, leluhur pertama yang menurunkan tatanan hidup dan menanamkan nilai keseimbangan antara manusia dan alam.
Di dalam hutan ini, terdapat 10 titik sakral yang dijaga ketat secara turun-temurun, mulai dari Pensimaoni, Padang Anunge, hingga Salo Alosie.
Tidak seorang pun diperbolehkan masuk tanpa izin adat, apalagi merusak vegetasinya. Pedoman moral mereka dikunci oleh sebuah mantra suci dari leluhur:
“Narekko Mujamai Panggale Ade’mu Makkasolangngi Ri Wanuammu“
(Apabila engkau merusak hutan adatmu, maka akan rusak pula kampungmu)
Namun, sekitar tahun 2016, kedamaian itu mulai terusik oleh maraknya perambah hutan liar dan aktivitas illegal logging oleh pihak luar.
Sadar bahwa hutan adat mereka terancam gundul dan memicu bencana alam, para pemuda desa mengambil inisiatif. Lahirlah organisasi PMWTC pada tahun 2016.
Di bawah struktur adat Cerekang, tatanan sosial dibagi menjadi tiga pilar yang tak terpisahkan, Pemangku Adat bertugas memimpin ritual spiritual, Lembaga Adat menjadi jembatan komunikasi dengan dunia luar, sedangkan PMWTC berdiri kokoh di garda terdepan sebagai tameng fisik pelestari hutan.
[BACA SELANJUTNYA – PART 2: Patroli Perahu Pinjaman di Tengah Kepungan Tambang Nikel]
Artikel ini ditulis sebagai bentuk apresiasi terhadap gerakan pemuda adat dan disadur langsung dari materi film dokumenter produksi Laboratorium Sosiologi Antropologi FISH UNM, dengan judul: “Penutur Hutan, Penjaga Ruang: Kisah Pejuang Muda dari Cerekang”

