Kabut tipis biasanya menjadi teman setia bagi masyarakat Kecamatan Rongkong setiap pagi. Namun, pada Kamis (14/05/2026), ada kehangatan yang berbeda terpancar dari wajah para petani di wilayah pegunungan Luwu Utara tersebut.
Setelah puluhan tahun menanti, bahkan sejak Kabupaten Luwu Utara pertama kali mekar, hari itu sejarah baru resmi tertulis. Langkah kaki ratusan petani terasa lebih ringan saat mendatangi Gudang Pengecer Desa Sabbang guna menghadiri penyaluran perdana dan tebus bersama pupuk bersubsidi.
Selama ini, cerita tentang pupuk subsidi bagaikan mimpi yang menggantung di awan bagi warga Rongkong.
Ketiadaan pengecer resmi di wilayah mereka memaksa para petani turun gunung, melintasi jalur ekstrem sejauh puluhan kilometer hanya untuk mencari sisa kuota pupuk.
Memutus Rantai Penderitaan di Gunung
Kepala Dinas Pertanian Luwu Utara, Pasolongan tidak menampik beratnya beban sejarah yang menjadi beban petani Rongkong selama ini.
Masalah ketiadaan agen pengecer lokal menjadi sumbatan utama yang merugikan finansial para pahlawan pangan tersebut.
“Ini menjadi langkah awal agar akses pupuk bagi petani Rongkong semakin mudah,” ujar Pasolongan di sela-sela kegiatan.
Nada suaranya bergetar penuh optimisme, menatap tumpukan karung pupuk yang siap dibawa pulang warga.
Pemerintah daerah kini mulai merajut mimpi yang lebih besar untuk wilayah subur ini. Dia berharap, kehadiran pupuk yang stabil mampu memicu minat investor lokal untuk membangun gudang pupuk permanen langsung di atas tanah Rongkong.
Pasolongan juga tengah mengusulkan penambahan kuota pupuk organik secara masif ke wilayah tersebut. Formula ini disiapkan demi mendukung penuh visi jangka panjang Rongkong sebagai sentra hortikultura unggulan di Luwu Utara.
Lompatan Teknologi di Bawah Tenda Sederhana
Di bawah tenda acara yang sederhana, Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim menyaksikan langsung senyum sumringah warga.
Ia melihat momentum ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bentuk keadilan distribusi yang sudah lama tertunda.
“Kecamatan Rongkong memiliki potensi alam luar biasa. Dukungan pupuk bersubsidi ini harus mampu memacu semangat petani mengelola lahan secara optimal,” tegas Andi Rahim hangat.
Menariknya, pemandangan di lokasi tidak lagi memajang sistem birokrasi kertas yang rumit. Lembaran karung putih berisi Urea dan Ponska kini ditebus menggunakan aplikasi ponsel pintar yang dioperasikan oleh petugas dinas secara transparan.
Digitalisasi di tengah desa ini menjadi benteng kokoh untuk memastikan tidak ada lagi pupuk yang salah alamat. Bagi petani Rongkong, aplikasi di gawai tersebut adalah simbol runtuhnya era mafia pupuk dan lahirnya harapan baru yang lebih makmur.

