Penemuan Jasad di Bukit Salobulo Palopo Ternyata Pria yang Hilang

Asdhar
By Asdhar
3 Min Read
Sesosok jasad pria ditemukan tinggal tulang di Bukit Salobulo, Palopo. Istri korban mengenali identitas suaminya yang hilang sejak 4 Mei dari pakaian. (ist)

Teka-teki hilangnya seorang warga Kota Palopo sejak awal Mei akhirnya terjawab dengan cara yang sangat memilukan.

Suasana tenang di belakang Perumahan Libukang Permai, Kelurahan Salobulo, Kecamatan Wara Utara, mendadak gempar setelah warga menemukan jasad seorang pria dalam kondisi mengenaskan di area perbukitan, Kamis (14/05/2026) sore.

Jasad yang ditemukan sekitar pukul 15.30 WITA tersebut sudah sulit dikenali karena sebagian besar tubuhnya telah rusak dan tinggal tulang.

Namun, tangis histeris pecah di lokasi kejadian ketika seorang wanita bernama Hanafiah tiba di TKP.

Hanafiah, yang merupakan istri korban, langsung mengenali bahwa jasad tersebut adalah suaminya yang telah hilang misterius sejak 4 Mei 2026 lalu.

Lembaran kain pakaian yang masih melekat di tubuh jasad menjadi petunjuk terakhir yang memutus harapan keluarga untuk melihat korban pulang dalam keadaan selamat.

Berdasarkan keterangan keluarga, almarhum memang mengidap gangguan lupa ingatan (demensia) sebelum dinyatakan hilang.

Penemuan jasad ini pertama kali terungkap secara tidak sengaja oleh seorang warga berinisial AR. Sore itu, AR berniat memindahkan sapi peliharaannya di kawasan Bukit Salobulo.

Langkah kakinya terhenti saat melihat sesosok tubuh tergeletak kaku di atas tanah dengan kondisi yang sudah hancur.

Kasi Humas Polres Palopo, AKP Marsuki, membenarkan kronologi penemuan tersebut. Setelah menerima laporan dari warga dan ketua RT setempat, pihak kepolisian langsung bergerak cepat ke lokasi.

“Kondisinya sudah rusak, wajah tidak dikenali dan tubuh tinggal tulang. Pihak keluarga yang datang ke lokasi mengenali korban dari pakaian yang digunakan. Hal ini juga diperkuat oleh kerabat korban lainnya yang mencocokkan ciri-ciri fisik almarhum,” terang AKP Marsuki saat dikonfirmasi, Kamis malam.

Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan melibatkan tim dari BPBD Kota Palopo sekitar pukul 16.15 WITA. Personel kepolisian langsung memasang garis polisi di sekitar area bukit untuk mengamankan lokasi dan melakukan olah TKP awal.

Kendati kematian korban menyisakan duka mendalam, pihak keluarga memilih untuk mengikhlaskan kepergian almarhum secara lapang dada.

Keluarga menolak proses autopsi medis dan meminta jasad korban langsung diserahkan agar bisa segera dimakamkan secara layak.

“Jenazah sudah kami serahkan kepada pihak keluarga. Untuk proses administrasi, keluarga korban juga diarahkan membuat surat pernyataan penolakan autopsi di Polres Palopo,” kunci AKP Marsuki.

Share This Article