Masa depan kelestarian hutan adat di Cerekang, Luwu Timur, tidak boleh digantungkan pada nasib atau kebetulan semata.
Oleh karena itu, komunitas Pejuang Muda Wija To Cerekang (PMWTC) meluncurkan strategi regenerasi dini yang terstruktur demi menjaga kesucian tanah ulayat mereka.
Langkah pewarisan semangat ini di lakukan dengan cara yang cukup ekstrem namun sangat alami.
Setiap kali tim pemuda mengadakan patroli tapal batas hutan adat, mereka selalu berinisiatif memboyong anak-anak kampung yang berusia di bawah 17 tahun untuk ikut naik ke atas perahu.
BACA JUGA
Sepanjang menyusuri riak Sungai Cerekang, anak-anak tersebut diperlihatkan secara langsung di mana letak patok penanda wilayah adat mereka berada.
Melalui pengalaman empiris di lapangan inilah, doktrin menjaga tanah leluhur dan pengenalan peta ekologi dialirkan sejak dini ke dalam ingatan kolektif generasi penerus.

Keterlibatan Perempuan dan Kedaulatan Ekonomi Sejak Belia
Strategi regenerasi PMWTC tidak hanya menyasar anak-anak di atas perahu patroli. Sebab, para pemudi dan perempuan adat juga ikut dalam lingkaran gerakan lewat Kelompok Usaha Bersama (Kube) Manurung Sejahtera.
Kelompok yang telah mandiri selama empat tahun ini menjadi wadah bagi generasi muda perempuan untuk belajar merawat resep kecantikan kuno warisan leluhur.
Mereka memproduksi Bedak Bolong dan Bedak Rica dengan memanfaatkan bahan alami dari pekarangan rumah seperti pala dan kayu manis.
Dengan demikian, proses estafet kepedulian terhadap kelestarian alam Cerekang mengalir kuat di segala lini tanpa sekat gender.
“Kami tidak ingin anak cucu kami kelak buta akan tanah kelahiran mereka sendiri. Menjaga Cerekang adalah perkara harga diri dan kelangsungan hidup,” tegas salah satu penggerak pemuda adat setempat.
BACA JUGA
Sumpah Leluhur yang Melampaui Trofi Negara
Apresiasi berupa Penghargaan Kalpataru 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup mungkin akan menjadi trofi emas yang menghias sekretariat mereka dalam waktu dekat.
Meskipun demikian, dengan atau tanpa adanya pengakuan tertinggi dari negara tersebut, denyut nadi kaderisasi PMWTC tidak akan pernah kendor.
Sumpah leluhur akan tetap tertanam kuat di dada setiap anak-anak dan pemuda yang pernah mencicipi air Sungai Cerekang.
Keterlibatan aktif generasi muda ini menjadi jaminan mutlak bahwa hutan sakral, aliran sungai purba, dan bentangan mangrove di ujung Luwu Timur ini akan tetap perawan hingga ratusan tahun ke depan. (TAMAT)
{BACA SEBELUMNYA – PART 1: Mengenal Pejuang Muda Wija To Cerekang]
[BACA SEBELUMNYA – PART 2: Sentuhan Emak-Emak Adat dan Estafet Penjaga Ruang Masa Depan]
Kami mengemas artikel ini sebagai bentuk apresiasi terhadap gerakan pemuda adat. Penulisan konten ini sebagian besar merujuk pada materi film dokumenter produksi Laboratorium Sosiologi Antropologi FISH UNM, yang berjudul: “Penutur Hutan, Penjaga Ruang: Kisah Pejuang Muda dari Cerekang”

