Antisipasi Banjir Meluas, Bupati Luwu Utara Naikkan Status Tanggap Darurat

Asdhar
By Asdhar
2 Min Read
Bupati Luwu Utara Andi Rahim resmi menaikkan status Tanggap Darurat Bencana akibat banjir yang meluas di lima kecamatan (Sumber: setda.luwuutarakab.go.id)

Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim resmi menaikkan status penanganan bencana dari Siaga menjadi Tanggap Darurat Bencana.

Langkah cepat ini menyusul tingginya intensitas curah hujan yang memicu genangan banjir di sejumlah wilayah kecamatan harian.

Keputusan krusial tersebut lahir setelah pemerintah menggelar Rapat Siaga Darurat Bencana di Command Center, Senin (18/05/2026). Rapat koordinasi ini melibatkan seluruh unsur Forkopimda, Sekda, BMKG, Basarnas, hingga jajaran camat terdampak.

“Dengan status Tanggap Darurat Bencana sekarang ini, sangat penting langkah strategis yang terukur dan penanganan dini bagi korban,” tegas Andi Rahim saat memimpin jalannya rapat utama.

Identifikasi Masalah Lima Kecamatan

Data lapangan mencatat ada lima kecamatan yang kini terkena dampak luapan banjir secara langsung.

Daftar wilayah tersebut meliputi Kecamatan Mappedeceng, Malangke, Malangke Barat, Bone-Bone, serta kawasan Baebunta Selatan.

Andi Rahim meminta tim pusat studi kebencanaan Unhas yang hadir untuk membantu mengidentifikasi masalah faktual di lapangan.

Dia juga menginstruksikan seluruh aparatur pemerintah daerah agar segera siaga penuh di lokasi masing-masing.

Camat dan kepala desa wajib berada di garda terdepan untuk membantu proses penyelamatan warga.

Ancaman Cuaca Ekstrem Hingga Juli

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis peta Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi untuk Dasarian II Mei 2026 (tanggal 11 sampai 20 Mei 2026). Dalam rilis tersebut, kawasan Luwu Raya menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian serius akibat potensi cuaca ekstrem yang mengancam sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data grafis BMKG, wilayah Luwu Raya menunjukkan tingkat kerawanan yang bervariasi. Kabupaten Luwu Utara kini berada dalam status Siaga.

Bahkan, BMKG Luwu Utara memprediksi bahwa musim penghujan ekstrem masih akan berlangsung hingga bulan Juli mendatang.

Kondisi atmosfer ini menuntut adanya sistem mitigasi yang lebih terintegrasi lintas sektor secara berkala.

Andi Rahim mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dini dan menjaga komunikasi lingkungan.

Langkah ini penting agar manajemen penanggulangan bencana di Luwu Utara bisa berjalan maksimal tanpa kendala.

Share This Article